Web Toolbar by Wibiya

5 Prinsip Komunikasi dengan Anak


Anak memiliki jiwa yang unik yang perlu diselami secara dalam, terutama hal komukasi. Agar komunikasi berjalan efektif dan diperlukan kiat khusus. Berikut ada lima prinsip komunikasi terhadap anak.

1. Jangan pernah menganggap anak bodoh atau tak tahu apa-apa

Berbeda dengan anggapan banyak orang dewasa ini, anak yang paling kecil sekalipun sebenarnya sudah menyerap banyak hal dari lingkungannya. Ia melihat, merasakan, mendengar dan memikirkan (meski masih dalam kapasitas yang terba-tas). Kadang-kadang bahkan dengan kepekaan yarg luar biasa. Expect more they'll give you more.

2. Hati-hati dengan kemampuan orang tua menghipnotis anak

Prinsip programming komputer garbage in garbage out (sampah yang masuk, sampah yang keluar), benar-benar terbukti dalam pendidikan anak. Kalau orang tua ingin memperoleh output yang berkualitas, masukkanlah bahan-bahan mentah yƤng baik. Pujian, pengharga-an, kata-kata manis, omelan yang proporsional dan tidak rnerendahkan harga diri anak; semuanya menentukan output itu. Sebaliknya, celaan dan hinaan akan menghipnotis anak bahwa dirinya tak berharga sampai ia dewasa.

3. Dibutuhkan kelenturan dan fleksibilitas

Kadang-kadang, orang tua perlu menjadi 'pelindung dan pahlawan', kadang-kadang sebagai teman dan sahabat, dan pada waktunya nanti sebagai seorang ayah/ibu yang realistis menerima berbagai kondisi dan keter-batasan. Tentu dibutuhkan kepekaan untuk itu. Misalnya pada saat sulit, orang tua justru bershenti bersikap sebagai sahabat dan lebih bertindak sebagai pelindung. Sesudah konfrontasi atau krisis, tidak peduli berapapun usianya, anak membutuhkan suasana terlindungi.

Ia, dan juga kita, membutuhkan 'ruang', yang lebih tenang; kita bisa memberinya dengan bersikap sebagai pelindung. Misalnya, dengan berbicara tenang, pandang mata anak. Jangan hujani dengan terlalu banyak pertanyaan. Syukur alhamdulillah, kebanyakan orang tua sebenamya sudah dibekali naluri untuk ber-tindak peka seperti ini, meski semata-mata mengandalkan naluri pun tak terlalu tepat.

4. Semaksimal mungkin menyediakan tiga unsur penting komunikasi yakni; waktu, sentuhan dan bicara.

Tiga faktor utama inilah yang menentukan apakah komuniksi orang tua dan anak akan sehat, apakah anak akan tumbuh kembang normal dan sehat sertasiap memasuki dunia luas. Apakah ia akan tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri dan siap menghadapi tantangan, atau anak penakut dan rendah diri. Bahkan ayah/ibu yang sangat sibuk pun sebenarnya bisa tetap menyediakan waktu yang cukup bagi anak mereka. Ada teknik-teknik untuk itu; misalnya, dengan memberi anak beberapa me-nit perhatian yang tak terbagi dalam sehari.

Semua orang memiliki yang disebut skin hunger k'n langer; ra-sa lapar akan sentuhan. Tak perduli berapa usia kita, kita membutuhkan kasih sayang yang diwujudkan dengan sen-tuhan. Ini bisa berarti, cubit, sayang, gelitikan, gulat atau ciuman. Selama masih bisa, sebanyak-banyaknya sentuhan itu pada anak; tidak akan lama lagi mereka sudah akan merasa malu dicium oleh ayah/ibu mereka. Namun, jangan berhenti karena mereka malu dicium; sentuh dengan cara lain, misalnya meragkul bahu atau menggelitik. Pada dasamya, mereka tetap membutuhkannya. Akan halnya bicara, ba-nyak hal yang bisa diperhati-kan.

Misalnya saja, orang tua dapat berbicara pada anak lewat mendongeng, bacaan ayat suci, nyanyian, 'goda-menggoda, humor dan lelucon. Berbicara adalah juga mendengar dengan baik dan peka; membaca raut muka serta pengungkapan isi hati. Berbicara adalah memuji, mengomeli, sesekali mengancam, menyatakan cinta, menyatakan kesedihan dan kekecewaan. Berbicara adalah menghargai pendapat anak, memintanya menghargai pendapat orang lain. Berbicara bicara serius, ringan ataupun sambil lalu.

5. Menggunakan kreativitas

Tidak semua ketrampilan dan pengetahuan bi diperoleh seketika. Karena itu di-butuhkan keberanian mencoba dan kreativitas. Dua faktor Bantu orang tua menghadapi berbagai tantangan yang mungkin tak bisa dicegah, seperti godaan dari luar rumah. Contoh ketika seorang ibu terpaksa mengambil keputusan pindah dari lingkungan yang sekarang, karena dirasa tak lagi aman bagi perkembangan anak-anaknya.

Bagaimana bila orang tua merasa 'terlanjur' salah dalam berkomunikasi dengan anak? Alhamdulillah, Allah Ta'ala melengkapi manusia dengan kemampuan melupakan suatu pengalaman buruk dan bangkit kembali dari kegagalannya. Karena itu, selamat mencoba resep berkomunikasi dengan anak ini.

Dikutip dari Makalah Shanti W:E: Soekanto pada Seminar Sehari Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak.
Read More...

PROGRAM SEKOLAH BERSIH DAN HIJAU




Kerusakan lingkungan yang saat ini terjadi telah mencapai stadium yang amat kronis. Pencemaran tanah, air dan udara terjadi di mana-mana, suhu permukaan bumi bertambah panas, flora dan fauna banyak mengalami kerusakan dan kepunahan, tanah longsor, banjir bandang dan lain sebagainya.

Di sisi lain kesadaran penduduk bumi
( manusia ) tentang lingkungan hidup amat rendah. Hal ini terbukti dengan kebiasaan masyarakat membuang sampah di tempat sembarangan dan tidak dikelola secara baik. Perlakuan terhadap air yang tidak tepat. Dalam skala besar eksploitasi alam dan penebangan pohon di hutan dilakukan secara membabi buta.

Sikap dan perlakuan terhadap alam/lingkungan seperti ini tentu saja amat merugikan siapa saja, baik umat manusia saat ini lebih-lebih di masa depan. Di samping perlu adanya proteksi berupa payung hukum terhadap lingkungan, pendidikan kesadaran lingkungan sangat penting ditanamkan dan diterapkan, baik pada seluruh masyarakat maupun pada dunia pendidikan.

Pendidikan tentang kesadaran lingkungan hidup pada anak-anak usia dini ( usia play group, TK dan SD ) adalah saat yang tepat, karena pada usia ini adalah masa – masa pembentukan karakter

Bertolak dari hal inilah, sebagai lembaga pendidikan formal tingkat dasar, SD Integral Luqman Al Hakim Bojonegoro merasa perlu menanamkan rasa kepadulian ini pada anak-anak didiknya melalui program “ Sekolah Hijau dan Bersih ( Grenn ang Clean )”.

FUNGSI :
- Sarana mengenal keberadaan Allah
melalui ciptaan-Nya ( hewan, tum-
buhan dan lingkungan ).
- Sarana menanamkan karakter anak
yang cinta pada lingkungan.
- Sarana pendidikan bagi anak didik
Baik bersifat teori maupun praktek.
- Sebagai laboratorium hidup sekolah

TUJUAN :
- Tumbuh kesadaran dan kepedulian warga sekolah ( pengurus, guru, karyawan dan siswa ) terhadap lingkungan hidup.
- Menciptakan sekolah bersih, indah, rapi, sehat, aman dan hijau.
- Turut melestarikan kelangsungan lingkungan hidup.
- Terwujudnya sekolah percontohan dalam hal penanganan dan pelestarian lingkungan hidup.

KEGIATAN :

1. Penyuluhan pentingnya peduli lingkungan hidup.
2. Penanaman tanaman keras, buah, hias, sayur dan obat.
3. Pemanfaatan air limbah sekolah.
4. Pembuatan sampah organik/kompos.
5. Pemanfaatan sampah untuk kerajinan
6. Jumat bersih ( kerja bakti bersama warga sekolah ).
7. Senin Bersih ( pemeriksaan kebersihan tiap siswa ).
8. Lomba karya tulis tentang lingkungan
antar siswa
9. Pemilihan duta lingkungan hidup
sekolah.
10. Aksi peduli lingkungan di luar
sekolah.

SUBYEK DAN OBYEK :

- Murid
- Guru
- Karyawan
- Pengurus Yayasan
- Orang tua
- Masyarakat

SARANA DAN PRASARANA :

- Tersedianya kamar mandi, wc, tempat wudhu yang memadai.
- Saluran air ( got ).
- Sanitasi udara yang sehat.
- Tersedia bak sampah yang terdiri sampah organik dan non organik.
- Tersedia alat-alat kebersihan pada tiap ruangan/kelas ( sapu, lap, pel, kemluncing ).
- Tersedia rak sepatu atau loker.
- Tersedia cermin pada tiap kelas
- Tersedianya bak cuci tangan di depan kelas.
- Adanya tempat pembuatan kompos.
- Adanya poster-poster yang mendukung program green and clean
- Kurikulum lingkungan hidup.
- Adanya reward dan sangsi
Read More...

Jangan Marah


Malam hari selesai sholat Isyak. Bu Hasna membimbing anak-anknya be;lajar di rumah. Hari itu dzikri. Qoyima, Hawari, dan Afi sudah siap di ruang belajar. Di papan tertuliskan kata Al ‘Afuwww dalam huruf arab. Yang berarti Allh yang Pemaaf. Al ‘Afuww adalah salah satu nama indah yang dimiliki Allah. Bu Hasna membimbing anak-anak untuk menghafal Asmaul Husna dan memahami maksudnya.

“Al Afuww. Apa artinya Bunda?” Tanya Hawari .
‘yang pemaaf.” Jawab Bunda
“Maksudnya bagaiman Bun?” tanya Qoyima.
“ Artinya Allah banyak memaafkan.
Maaf Allah itu sangat luas. Kita harus mengetahuai keluasan maaf Allah nak”
“ Contohnya apa Bunda?” tanya Dzikri.
“kalau dalam ibadah, contohnya Allah memerintah kita shalat. Ketika kita sakit sehingga kita tidak kuat berdiri dalam shalat, maka Allah memberi keringanan, kita boleh sholat sambil duduk, jika kita duduk pun kita tidak kuat, kita boleh sambil berbaring. Jadi Allah meringankan perintah-Nya kepada orang yang tidak mampu menjalani tidak sempurna. Itu tanda Allah memaafkan.”
Aku tahu contoh yang lainya.”Sela Qoyima.
“ Coba kamu sebutkan’Kata Bunda.
“jika orang yang berbuat salah lalu ia minta ampun pada Allah, maka Allah akan menagampuni atau menghapus dosanya.”
“Alhamdulillah. Betul kau Nak.”
‘Bunda. Kata AL’Afuww juga bias dipakai untuk berdo’a dong. Contohnya gimana ?” tanya Afi.
Contohnya kita berdo’a dengan mengucapkan do’a pada Al baqarah ayat 286 Artinya, “ ……. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatillah kami. Engkaulah penolong kami……..”
“ Kalau kita berbuat salah dengan orang lain gimana Bun?” tanya Hawari
“Ya minta maaf dong pada orangnya.” Sanggah Qoyima.
“kalau orang lain berbuat salah kepada kita tapi ia tidak mau minta maaf gimana?” tanya Dzikri.
“Begini Nak. Hendaklah mengambil nilai kebaikan yang telah Allah ajarkan. Allah itu Maha Pemaaf. Jika kita tidak tahu luasnya maaf Allah. Hendaklah kita selalu memohon maaf-Nya. Banyaklah memohon ampunan-Nya. Jika berhubungan dengan orang lain yang berbuat salah kepada kita, maka lapangkanlah hatimu untuk memaafkanya Maka Allah akan memuliakanmu Nak.”
Read More...

Menempa Jiwa


Cukuplah orang tua dikatakan menyengsarakan hidup anak apabila ia membiasakan hidup mudah. Segala sesuatu yang mereka perlukan telah tersedia dengan mudah, nyaris tanpa usaha berarti, padahal, pengalaman berusaha dan menyelesaiakan masalah akan menignkatkan kapasitas pribadi seseorang. Sehingga semakin banyak masalah yang mampu ia selesaiakan, semakin tinggi nilai hidupnya.
Sesunguhnya orang tua yang kejam adalah merekan yang tidak memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan di usia itu. Kejamlah seorang ibu yang masih selalu menyuapi anaknya, setiap saat, padahal anak seharunya sudah bisa makan sendiri. Kejamlah seorng bapak yang selalu melayani keinginan anak dan memenuhi permintaan mereka. Padahal anak-anak itu kelak harus memiliki kecakapan men-tasharuf-kan hartanya. Kejamlah orang tua hanya memberi uang dan fasilitas berlimpah kepada anaknya tanpa memberi tanggung jawab, kewajiban dan tantangan kepada mereka.
Mari kita belajar dari pohon apel. Sesungguhnya apel tidak berbuah kecuali setelah daunya rontok. Jika ia ditanam di negeri yang tidak mengenal musim gugur, maka kitalah yang akan membantu agar apel tersebut berbuah. Kita membantu mengurangi daun-daunnya.
Pelajaran apa yang bisa kita petik? Perlu tantangan sebelum berbuah. Ada tantangan secara alamiah dihadapi karena kondisi yang tidak terelakan. Tetapi jika kondisi yang diperlukan tidak tersedia, maka kitalah yang harus merancang agar ada tantangan yang”menggairahkan”.
Jika kita menilik sejarah, orang-orang besar adalah mereka memiliki catantan panjang tantang ketanguhan, ketegaran, kegigihan, kejujuran, integritas, yang tinggi, keberanian dan tekad yang kuat untuk menyelesaikan setiap masalah dengan cara sebaik-baiknya sesuai dengan rambu-rambu yang telah di berikan oleh Allah Ta’la dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ( SAW). Mereka di tempa oleh tantangan yang dating berjenjang- jenjang. Awalnya ringan dulu, lalu datang lagi tantangan yang lebih berat.
Bahkan tidak sedikit orang besar yang sejak lahir sudah dipenuhi kesulitan dan tantangan. Ia lahir dalam kesulitan, besar dalam kesulitan dan kemdian tumbuh menjadi manusia yang sanggup mengatasi berbagai kesulitan yang orang lain takut membayangkannya.
Mereka banyak menghadpi kesulitan, tetapi pada saat yang sama ada kekuatan jiwa untuk menghadapinya. Terkadang kekuatan itu mengalir dari hadirnya seorang ibu yang senantiasa memberi dukungan ketika ia merasa tak sanggup lagi. Di antara orang-orang sukses, banyak mengawali hidupnya dengan berbagai kesulitan. Bahkan sebagian mereka bahkan pernah merasa tak sanggup menghadipnya, lalu ia berikrar agar anaknya tak pernah menjumpai kepahitan hidup yang serupa. Tetapi ia lupa membedakan kepahitan hidup berbeda dengan tantangan. Alih-alih tak ingin anaknya sengsara, justru menghindarkan anak dari tantangan. Diam-diam menjadikan anaknya tak berdaya dengan melimpahi mereka fasilitas dan kemudahan.
Padahak, berlimpahnya fasilitas tanpa tantangan menjadikan anak lemah secara mental, rendah daya juangnya, mudah frustasi karena tak terbiasa menghadapi kesulitan, dan tidak memiliki keterampilan memadai dalam menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari. Mereka inilah yang rawan terkena penyakit affluanza.
Apakah afflueanza itu ? o, banyak sekali definisi yang bisa kita temukan pada kata ini. Tetapi ada beberapa hal yang mempersamakan dari berbagai definisi itu, yakni bahwa afflueanza merupakan kondisi ketika orang menakar keberhasilan dan kebahagiaan dari beberapa banyak uang yang dimiliki, berapa mewah barang yang dikonsumsi, dan beberapa lengkap perangkat yang dipunyai beserta segala kemudahan yang bisa dibeli. Mereka dimanjakan oleh uang karena orang tua sudah merdeka secara financial, tetapi hati mereka hampa dan kebahagiaan sangat jauh dari kehidupan. Semakin mereka menganggap bisa membeli kebahagiaan dengan uang, semakin kering hidup mereka, semakin jauh pula kebahagiaan itu menghindar dari mereka. Di saat itulah mereka semakin sibuk mengejar… denga uang yang mereka punya !!
Padahal, itu justru membuatnya semakin tidak bahagia. Tetapi tak ada pilihan buat mereka sebab yang mereka ketahui, uang bisa beli apapun. Sejak kecil mereka dibesarkan denga kemudahan dan fasilitas, sehingga mereka justru menemukan banyak kesulitan dalam hidup. Apa yang sederhana buat orang lain, bisa menjadi kesulitan besar bagi dirinya.

Perlunya tantangan

Jadi apa yang membuat anak-anak itu lemah dimasa dewasanya? Mereka tak berdaya karena otot mereka, otak mereka dan mental mereka tak pernah ditempa. Mereka lemah karena terlalu banyak dimanja oleh fasilitas berlimpah. Mereka menemui banyak kesulitan karena terbiasa hidup serba mudah. Sesungguhnya, apa yang berat bisa tersa ringan, apabila kita memperoleh tempaan yang cukup untuk menghadapi tantangan. Semakin banyak tantangan yang mampu kita hadapi, akan kuatlah kita denga izin Allah ta’la.
Perlunya memberi kesempatan kepada anak untuk menghadapi tantangan bukan berarti orang tua harus membiasakan anak hidup sulit. Sangat berbeda mempersulit keadaan dengan menempa anak menghadapi kesulitan. Kita memberi kesempatan kepada anak untuk belajar dengan memberinya tanggung jawab, memberi mereka tugas untuk menyiapkan, mengatur dan menjaga apa yang mereka perlukan dalam hidup sehari-hari, serta memberi mereka kesempatan bagi mereka untuk belajar mengurusi dirinya sendiri. Jadi, bukan mereampas hak mereka untuk belajar mandiri.
Bayi usia 1, 5 Tahun misalnya secara alamiah mereka akan terdorong untuk belajar makan sendiri. Tentu saja karena belum memiliki cukup keterampilan, hasilnya bisa belepotan dan mengotori lantai. Tetapi jika atas nama kasih saying, kita tidak memberi kesempatan sehingga kia selalu menyuapinya, anak itu akan terhambat kemampuannya dan sulit tumbuh kemandiriannya.
Di usia-usia berikutnya ketika anak sudah saatnya untuk otonom, kita perlu membimbing mereka untuk menyiapkan sendiri buku pelajaran yang akan di pakai besok dan menyiapkan perlengkapannya. Secara perlahan kita memperkenalkan kepada mereka konsekuensi jika mengabaikan kewajiban. Pada saat yang sama kita mulai perlu memberi mereka tantangan –tantangan bukan membebani.

Di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan
Insya Allah melalui tantangan yang datang secara bertahap itu, anak-anak akan belajar memecahkan kesulitan. Sesungguhnya, Allah Ta’ala letakkan kemudahan itu menyertai kesulitan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman “ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudhan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Q.S.Al Insyiraah:5-6).
Muhammad Sulaiman ‘Abdullah al-Asyqar meneragkan dalam tafsirnya yang bertajuk Zubdatul Tafsiir Min Fathil Qadiir bahwa maksud ayat ini ialah sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan lain. Ibnu Mas’ud r.a dengan setatus marfu’ meneragkan seandainya kesulitan itu ada di dalam batu niscaya ia akan di ikuti kemudahan sehingga ia masuk kedalamnya kemudian mengeluarkanya dari batu tersebut. Suatu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan. Sesungguhnya Allah berfirman “ karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Sungguh membiasakan anak hidup mudah dapat melemahkan mereka dalam keterampilan hidup, berfikir dan bersikap. Bahkan bukan tidak mungkin menyebabkan mereka lemah iman. Na’udzubillahi min dzaalik ( di kutip dari majalah Hidayatullah “ kolom parenting” Muhammad Fauzil Adzim”)

Read More...
 
Copyright (c) 2010 SD Integral Luqman Al Hakim Bojonegoro
Jl. Lisman 18 B Bojonegoro Telp (0353) 7705344,888025, Email :sdintegral@yahoo.com