Web Toolbar by Wibiya

Perlu Alasan Untuk Belajar



Apa yang membuat kita mau berusaha lebih gigih untuk meraih sesuatu? Macam-macam. Banyak hal yang bisa menggerakkan kita untuk bertindak lebih serius. Tak peduli suka atau tidak, kita bersungguh-sungguh mengerjakannya.

Apa yang menjadikan kita bersedia meluangkan waktu lebih banyak dan belajar lebih keras? Sama juga. Ada berbagai faktor yang bisa memaksa kita untuk menekuni sesuatu dan mengabaikan yang lainnya. Sebagaimana ada banyak alasan yang bisa menggairahkan kita untuk bertekun-tekun mengkaji sesuatu. Karena takut, kita bisa bersungguh-
sungguh melakukan sesuatu agar terhindar dari bahaya yang mengancam. Karena tekanan, kita bisa bertahan untuk melakukan apa yang tidak kita sukai. Atau karena suka, kita bisa lupa waktu bahwa malam sudah beranjak mendekati pagi. Kita masih asyik membuka-buka buku yang sudah tiga atau empat kali kita nikmati.

Sebagaimana kita, anak-anak melakukan sesuatu juga karena satu alasan. Harus ada yang menjadi penggerak; sebuah alasan mengapa ia harus melakukan sesuatu dan mewujudkan tujuannya. Jika kita membangkitkan dalam diri mereka satu alasan yang kuat, mereka akan belajar dengan sangat serius dan sungguh-sungguh, meskipun kita sedang tertidur lelap. Tetapi jika kita berangkat dari pertanyaan apa yang membuat mereka belajar, maka kita akan sibuk untuk terus-menerus menyuruh atau menyediakan apa yang bisa menggerakkan mereka untuk belajar: terpaksa atau tidak. Bukan berarti kita tidak perlu bertanya apa yang membuat mereka belajar, tetapi pertanyaan ini seharusnya ada setelah kita menumbuhkan dalam diri anak-anak itu alasan mengapa mereka perlu bersungguh-sungguh memeras keringat mereka untuk mencari ‘ilmu dan menanamkan kebanggaan terhadapnya; bangga menjadi orang yang rela lecet kakinya untuk mengejar ilmu.

Menumbuhkan Sikap Belajar
Jika anak-anak memiliki alasan yang kuat untuk belajar, maka usaha untuk membuat mereka nyaman belajar akan mendorong mereka lebih bergairah menyerap ilmu. Keterampilan belajar kita bangun sesudah sikap belajar tumbuh dalam diri anak didik kita. Ini berarti menumbuhkan sikap belajar jauh lebih mendesak daripada kemampuan memahami pelajaran, terutama untuk siswa SD kelas bawah. Sikap belajar yang positif akan membangkitkan antusiasme. Inilah yang menjadikan anak senang belajar. Mereka belajar karena mereka ingin melakukannya. Bukan karena ancaman.

Pertanyaannya, bukankah tanpa ancaman anak-anak cenderung malas belajar? Hemm…. Ancaman memang bisa membuat mereka belajar asalkan rasa takut itu masih ada. Tetapi ketika sudah terbiasa, mereka tak lagi bersedia membuang-buang waktu untuk menyimak buku-buku pelajaran. Akibatnya, kita perlu memberi ancaman yang lebih besar agar mereka bersedia belajar.

Tekanan yang kita berikan kepada mereka juga dapat menjadikan anak-anak lebih tekun belajar. Apalagi jika ada unsur penguat, misalnya mengulang di kelas 6 bersama adiknya jika tidak lulus UASBN. Tetapi segera setelah tekanan itu berlalu, kesediaan mereka untuk belajar akan hilang. Lebih-lebih jika kita sendiri sudah tidak terlalu peduli apakah mereka belajar atau tidak, kesediaan mereka belajar akan lebih merosot lagi. Padahal, kesediaan untuk belajar sangat berbeda dengan kemauan. Mau belajar tidak sama dengan kemauan untuk belajar.

Di luar itu, hilangnya kepedulian kita terhadap kegiatan belajar anak tatkala tidak menghadapi ujian juga menunjukkan bahwa kita sendiri tidak mempunyai cukup alasan kenapa belajar itu penting. Padahal, alasan mengapa (the reason why) perlu belajar jauh lebih penting daripada apa yang bisa menjadikan anak mau belajar. Yang pertama membangkitkan kemauan belajar, sedangkan yang kedua hanya menjadikan mereka mau belajar. Bukan kemauan. Ini berarti, mereka akan segera meninggalkan kegiatan membosankan ini apabila ujian sudah berlalu atau ujian dirasa masih jauh. Sementara ketika ujian sudah dekat, mereka menghadapi stress yang cukup berat.

Lalu, apa yang bisa kita simpulkan jika ternyata stress dan pola belajar keras hanya ketika menghadapi ujian juga dianut oleh guru dan sekolah? Sederhana sekali. Pola ini dengan jelas menunjukkan bahwa sekolah sendiri tidak menaruh perhatian pada pembentukan budaya belajar. Sekolah hanya memperhatikan materi ujian dan prestasi akademik yang bahkan lebih layak disebut kemampuan kognitif semata.

Apa yang terjadi kemudian, bisa kita ramalkan dengan mudah. Tanpa alasan yang kuat, sekolah akan sibuk dengan stress tahunan. Setiap menjelang ujian, tiga atau empat bulan sebelumnya, ada stress massal yang terjadi pada guru, siswa, dan wali siswa. Uniknya, stress massal ini terus-menerus mencengkeram dari tahun ke tahun tanpa ada usaha berarti untuk mengubahnya menjadi gairah. Seakan sudah menjadi suratan takdir. Paling-paling, alih-alih menemukan akar masalahnya dan menyelesaikannya dengan tuntas, kita justru sibuk menyalahkan UASBN – UAN. Padahal, tak ada yang perlu dicemaskan jika anak-anak kita sudah memiliki budaya belajar yang kuat. Mereka memang tidak menjadikan sukses UAN sebagai tujuan, tetapi gairah belajar mereka yang kuat dengan sendirinya menjadikan UAN tak lagi menakutkan.

Pertanyaannya, bagaimana cara menyuntikkan alasan yang kuat dalam diri anak-anak sehingga mereka berhasrat belajar? Cara paling sederhana adalah memotivasi. Bukan sekedar menyemangati. Ada dua pendekatan motivasi yang perlu kita pahami agar bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, yakni motivasi lembut (soft motivation) dan motivasi keras (hard motivation). Yang pertama, menitikberatkan pada penghayatan nilai-nilai hidup melalui dialog antara pendidik dan anak-anak.

Salah satu cara untuk menumbuhkan orientasi hidup yang baik dalam diri anak adalah dengan sering mengajak mereka berpikir tentang apa yang ingin mereka perbuat bagi umat dan agama ini kelak ketika mereka dewasa. Kita memberi rangsangan kepada mereka agar memiliki tekad yang kuat untuk berbuat baik. Keinginan berbuat itulah yang menjadi orientasi hidupnya sekaligus cita-citanya di masa dewasa. Bukan sekadar menjadi apa.

Motivasi lembut memang lebih lambat prosesnya. Tetapi ia lebih kuat pengaruhnya, bisa dilakukan setiap orang, dan tidak memerlukan kemampuan vokal yang bagus. Sedangkan motivasi keras, lebih cepat kelihatan hasilnya sekaligus relatif cepat luntur. Tak menunggu waktu lama untuk melihat pengaruhnya. Belum selesai kegiatan motivasi diberikan, kita sudah bisa melihat betapa terpengaruhnya mereka. Airmata sudah tumpah, tangan sudah mengepal, dan dada mereka sudah menggelegak dengan semangat yang berkobar-kobar. Tekad besar seketika muncul. Kesulitan harus ditaklukkan sekarang juga!!!

Ini bukan berarti tak ada tempat bagi motivasi keras. Ibarat shalat, ada yang perlu seremoni semisal shalat Jumat. Bahkan ada yang perlu seremoni lebih banyak lagi seperti shalat ‘Ied. Tetapi pilar utamanya tetap shalat lima waktu setiap harinya.

Motivasi juga demikian. Kegiatan motivasi yang menggunakan seremoni sekali waktu bisa saja kita selenggarakan untuk menggugah lebih cepat dan menggerakkan lebih dahsyat. Tetapi yang jauh lebih penting adalah motivasi sehari-hari, meskipun namanya bukan motivasi. Kita perlu senantiasa mengingatkan, menumbuhkan dan merawat niat anak didik kita dalam belajar.

Inilah yang perlu diingat oleh para guru. Setiap hari kita perlu menggerakkan hati anak didik kita sebelum memberi pelajaran kepada mereka. Hati yang mengingini akan mudah menerima pengetahuan yang diajarkan. Sebaliknya otak cerdas tanpa keinginan yang cukup, membuat pelajaran yang sederhana pun mudah mereka lupakan.

Kuatnya keinginan terhadap ilmu mendorong kita untuk lebih bersemangat memahami, mengkaji dan mewujudkan. Bukan sekadar mengingat sesaat dan tak berselang lama sudah lupa kembali.
Agaknya, ada yang perlu kita pikirkan berkait dengan pendidikan anak-anak kita di sekolah. Ada alasan yang perlu kita bangun dalam diri anak-anak kita untuk belajar lebih serius, lebih gigih dan lebih bersemangat. Sebuah alasan yang benar-benar mendasar.
Bagaimana…? SUARA HIDYATAULLAH APRIL 2010
Read More...

Beri Kepercayaan dan Jangan Pernah Tertawakan

Kedua anak saya sudah menanti waktu pertunjukan Mr Hayes yang akan mematahkan 100 balok kayu dalam waktu 10 detik. Mr. Hayes pemilik sekaligus guru taekwondow mereka di ATA Black Belt Academy.

Akhirnya jam 10 pagi, kami sekeluarga berangkat menuju tempat taekwondow mereka yang jauhnya 1 mile, tidak sampai 5 menit sudah sampai. Sesampai di sana sudah banyak teman-teman mereka yang hadir lengkap dengan seragam taekwondo, atas-bawah putih dengan sabuk berwarna sesuai tingkatan kemampuan anak. Anak-anak saya tidak memakai seragam karena niatnya hanya mau menonton Mr Hayes saja.

Saat memasuki kelas, kedua anak saya diminta bergabung dengan anak-anak yang lain untuk duduk di tempat latihan menonton video Power Kiz. Film tersebut bercerita tentang pertahan diri untuk anak-anak. Bagaimana jika mereka didekati orang tidak dikenal. Bagaimana melawan orang yang menangkap mereka, juga praktek langsung jika berhadapan dengan orang jahat. Anak berlatih memukul bagian hidung, leher, mata dan telinga orang jahat tersebut.

Setelah menonton film tersebut lalu ada atraksi anak-anak yang sudah sabuk hitam. Mematahkan papan kayu, menendang, lalu bermain dengan senjata. Saya perhatian anak-anak tersebut terlihat memiliki kepercayaan diri yang tinggi saat melakukan pertunjukan tersebut.

Sebenarnya itulah tujuan utama saya memasukan anak-anak ke ATA, agar mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sehingga mereka tidak takut menghadapi tantangan dalam kehidupan. Saat pertunjukan juga ada kesempatan bagi yang hadir untuk belajar memecahkan papan kayu. Mendengar tawaran tersebut, saya tawarkan pada kedua anak saya. Tetapi mereka tidak mau. Ya sudahlah saya tidak memaksa, saya hargai keputusan mereka.

Anak-anak yang mau belajar memecahkan papan sudah berjejer di tempat latihan. Kedua anak saya duduk di samping saya, tak tertarik. Tak lama ada pelatih mereka yang melihat kedua anak saya yang hanya duduk saja. Mr. White pun datang, jongkok di hadapan mereka dan mengajak mereka untuk turun ke lapangan. Ajaib! Mereka langsung mau.

Mulailah anak-anak berlatih melakukan pukulan. Pertama dengan kertas lalu dengan busa dan terakhir dengan kayu. Saat akan melakukan dengan kayu beneran, Mr Hayes berkata pada anak-anak tersebut.

”Yang kamu butuhkan untuk memecahkan papan kayu adalah believe in your self! Kalau kamu tidak percaya diri, kamu tidak akan bisa. Fokus, lihat ke papan dan pukul! Kamu pasti bisa.”

Anak-anak terlihat antusias dan semangat, termasuk peserta termuda usianya 4 tahun. Semua anak berhasil memecahkan papan kayu, termasuk kedua anak saya. Wow, kami bangga melihat mereka berhasil memecahkan papan tersebut. Mereka berhasil karena mereka yakin bisa memecahkan papan tersebut.

Hebatnya di ATA anak-anaknya begitu patuh dengan pelatihnya, kompak dan pada percaya diri. Salut dengan para pelatih yang bisa mengarahkan mengobarkan semanggat anak-anak tersebut. Papan-papan kayu anak tersebut kemudian dibawa pulang sebagai kenangan papan pertama yang dipatahkan. Juga di papan di tanda tangani oleh pelatih-pelatih mereka. Setelah itu acara puncak, memecahkan 100 papan dalam waktu 10 detik dan ternyata Mr Hayes dapat melakukannya dalam waktu 9,6 detik. Selamat Mr Hayes!

Setelah pulang dari pertunjukkan tersebut saya pun merenung. Saya bertanya pada diri sendiri. Apa yang sudah saya lakukan untuk menumbuhkan kepercayaan anak-anak saya pada diri mereka selama ini?

Padahal jika saya ingin mereka berprestasi dalam kehidupan mereka tugas pertama saya adalah membangun kepercayaan diri mereka. Tanpa kepercayaan diri mereka akan merasa tidak memiliki harapan dan merasa tak berdaya.

Sedangkan percaya diri akan tumbuh subur dan efektif jika anak merasa mampu. Dimana orang dewasa menghormati mereka dan menilai mereka sebagai seseorang yang berkuasa pada diri mereka sendiri. Caranya, dengan memberi mereka harapan pada masa depan mereka.

Sama seperti yang dilakukan Mr. Hayes memberi harapan kepada anak-anak tersebut dengan mengobarkan semanggat dan mengarahkan bagaimana caranya untuk sukses memecahkan papan kayu. Hasilnya anak-anak itu berhasil dengan penuh kebanggaan dalam jiwanya.

Bangun Rasa Percaya Dirinya

Rasa percaya diri anak akan tumbuh subur jika anak merasa berkuasa dan memiliki tanggungjawab pada dirinya. Anak bukan digunakan sebagai alat pemuasan keinginan orangtua sehingga segala sesuatunya diatur oleh orangtua. Bahkan anak tidak diberikan kebebasan dalam melakukan kegiatan sehari-hari sampai masa depan anak sendiri.

Untuk itu yang dapat dilakukan orangtua untuk membangun kepercayaan diri anak antara lain adalah:

Melihat anak sebagai pribadi yang unik dan menghargai setiap usaha anak. Tidak membandingkan seorang anak dengan saudara kandung atau kawan sebayanya. Melihat kelebihan anak dari pada kekurangan anak. Mendukung minat anak walaupun berbeda dengan keinginan kita sebagai orangtua. Kadangkala sebagai orangtua tanpa kita sadari kita telah membandingkan anak dengan saudaranya. “Kamu ini makan berantakan. Adik kamu bisa makan dengan rapi.” “Kakak kamu suka gambar. Masa kamu tidak tidak suka gambar.”
Realistis Terhadap Kemampuan Anak. Pelajarilah tumbuh kembang anak. Jangan mengharapkan anak melakukan sesuatu untuk meningkatkan gengsi Anda. Misalnya saja saat ini orangtua berlomba-lomba mengajarkan anaknya membaca sejak bayi. Orangtua bangga jika anaknya dapat membaca sejak dini. Padahal semua itu sebenarnya bukan untuk anak tetapi untuk memenuhi keinginan gengsi orangtua saja.
Berilah kebebasan pada anak untuk melakukan kesalahan alias biarkan anak belajar dari kesalahan tersebut. Ingatkan anak untuk tidak takut gagal. Ajarkan anak ketrampilan dalam memecahkan masalah agar mereka bisa terus berusaha. Daripada Anda memikirkan kesalahan anak lebih baik memusatkan pikiran bagaimana cara menyemangati anak.
Bangun kesuksesan. Ciptakan suasana untuk meminimalkan kegagalan. Misalnya dengan memerinci tugas ke dalam rentetan langkah mudah dan menceritakan mereka secara jelas dan singkat. Sediakan latihan. Beri anak kesempatan untuk berpartisipasi di bidang yang mereka kuasai.
Semangati anak. Lihat usaha yang sudah dilakukan anak, daripada kecewa dengan hasil yang dicapai oleh anak.
Hargai perasaaan anak. Ajarkan anak untuk menerima dan menghadapi perasaannya sendiri. Jika anak merasa kecewa dengan teman mainnya, dengarkan apa yang dirasakan anak, berikan tanggapan terhadap apa yang dirasakan anak.
Berikan ia pilihan. Anak tidak akan mengetahui pengertian kepemilikan dan tanggung jawab, jika orang lain selalu mengambil keputusan terhadap apa akan mereka melakukan. Untuk itu berikan pilihan sesuai umur anak, juga ijinkan mereka untuk mengadakan percobaan.
Berikan tanggungjawab dan ajarkan untuk bekerjasama. Beri kesempatan pada anak untuk menolong atau melakukan tugas di rumah. Hindari membantu anak melakukan sesuatu jika hal tersebut dapat dilakukan oleh anak sendiri. Misalnya, biarkan anak memakai sepatu sendiri walaupun Anda harus menunggu.
Bangun sense of humor. Tetapi jangan pernah sekali-kali mentertawakannya.

Meidya Derni, penulis buku “Jilbab Di Pelukan Uncle Sam” (Salamadani) dan “Princess Adila dan Karcis Sirkus” (DAR Mizan). Penulis tinggal di Amerika
Read More...

Penerimaan Murid Baru Tapel 2011 / 2012



KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR
Read More...

Guestbook

Read More...
 
Copyright (c) 2010 SD Integral Luqman Al Hakim Bojonegoro
Jl. Lisman 18 B Bojonegoro Telp (0353) 7705344,888025, Email :sdintegral@yahoo.com