Web Toolbar by Wibiya
Tampilkan postingan dengan label Positive Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Positive Parenting. Tampilkan semua postingan

Membangun Kepercayaan Murid kepada Guru



Oleh Mohammad Fauzil Adhim

TRUST –Kepercayaan adalah unsur paling penting yang harus ada dalam hu-bungan murid dengan guru. Jika murid tidak memiliki kepercayaan yang bulat dan mendalam kepada gurunya, maka sebaik apa pun ke¬mampuan guru menguasai materi, tak akan berpengaruh banyak pada keberhasilan pendidik¬an. Murid mungkin menguasai mata pelajaran dengan baik, tetapi ia tidak berhasil membangun jiwanya. Kualitas pribadinya tidak berkembang dan ketaatannya pada nilai-nilai yang dibangun oleh guru hanya berlaku selama guru tersebut masih memiliki kepribadian.

Agar anak-anak yang mewarisi masa depan ini mampu menjadi pemimpin yang mendasarkan pada kebenaran, bertumpu pada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan kepercayaan yang mutlak, mereka harus memperoleh pengalaman pendidikan yang di dalamnya terdapat iklim kepercayaan yang kuat terhadap guru. Mereka kita siapkan dalam lingkungan yang memiliki penghormatan dan adab yang tinggi terhadap guru.
Menancapnya kepercayaan yang kuat dalam dada setiap murid –bukan sekadar siswa— akan melahirkan dorongan untuk melihat, mendengar, meniru, dan menghayati setiap tutur dan perilaku guru. Mereka memiliki sikap positif terhadap guru, mencintainya dan menjadikannya sebagai figur teladan. Jika guru mengembangkan hubungan yang hangat dan empatik, maka para murid akan mengarahkan diri mereka masing-masing untuk siap memerhatikan dan mematuhi setiap yang mereka dengar dari gurunya.
Itu berarti, sekiranya guru tidak memiliki keterampilan mengajar yang memadai, sementara kualitas pribadi sebagai figur yang layak diteladani dan dipercaya mampu menjalin kedekatan emosi dengan murid, maka proses pembelajaran dan pendidikan akan tetap berlangsung efektif. Kata-kata guru akan tetap berpengaruh kuat pada diri murid meski suara mereka lemah dan cara penyampaiannya tidak atraktif.
Artinya, mengajar (ta’lim) sebagai proses transfer ilmu hanya bagian permukaan dari keseluruhan kegiatan mendidik di sekolah.

Jika ini terjadi, insya Allah, guru mampu mengelola para muridnya di kelas secara mandiri dan efektif. Tidak perlu dua orang guru untuk mengelola satu kelas yang terdiri dari 40-50 orang murid di dalamnya, sekalipun untuk SD kelas bawah.

Apa jumlah murid sebanyak itu tidak menciptakan keributan? Jawabnya sederhana. Jika kelas tidak efektif, 24 murid dengan 2 guru sekalipun tetap menghasilkan kegaduhan. Sebaliknya kelas besar yang efektif akan menciptakan iklim pembelajaran yang sangat kondusif dan dinamis. Chua Chu Kang, sebuah sekolah dasar di Singapura menerapkan pembelajaran kelas besar dan hasilnya… luar biasa, baik dari segi karakter maupun kompetensi.

Artinya, bukan rasio guru-murid yang menjadi faktor penentu utama keberhasilan kelas. Rasio guru-murid 1:10 tidak menunjukkan kualitas apa pun bagi sebuah sekolah jika guru tidak memiliki kemampuan dipercaya (trustworthiness) yang tinggi dan kualitas hubungan yang hangat. Sama seperti laboratorium bahasa atau komputer, kehadirannya tidak serta merta menjadikan sekolah memiliki kualifikasi tinggi jika perubahan fisik tidak disertai dengan perubahan paradigma dan cara berpikir.

Itu sebabnya, perlu kerjasama yang baik antara guru dan orangtua agar setiap murid memiliki tingkat kepercayaan (trust) tinggi pada guru. Sebagaimana murid, para orangtua juga harus menjalani, menghormati dan menjaga adab sebagai orangtua murid terhadap guru selaku murabbir ruh (pendidik dan penata jiwa) serta sekolah sebagai lembaga yang menyiapkan para murid untuk menjadi orang yang berilmu, gemar mencari ilmu, suka beramal shalih dan memiliki rasa tanggung-jawab untuk senantiasa mengingatkan saudaranya agar menetapi kebenaran. Apa pun yang dilakukan oleh guru dan sekolah, orangtua tidak boleh protes dan menunjukkan celaan di hadapan anaknya. Sebaliknya, orangtua justru harus menjadi penengah yang membantu anak memahami guru dan sekolah, atau memberi perspektif positif pada diri anak dalam memandang guru maupun sekolah.

Ini bukan berarti tak ada jalan bagi orangtua untuk memperbaiki dan bahkan mengoreksi guru secara total –jika memang harus terjadi. Tetapi upaya untuk mengingatkan, menasihati dan memperbaiki guru maupun sekolah harus dilakukan dengan cara yang santun, menjaga kredibilitas guru dan sekolah, serta memerhatikan waktu dan tempat yang tepat. Dalam hal ini, sekolah bisa memfasilitasi dengan menyediakan forum dan sarana bagi orangtua untuk menyampaikan kritik, teguran dan masukan.

Nah.
Jika orangtua harus menjaga tingkat kepercayaan anak terhadap guru, maka guru pun memiliki tugas untuk menumbuhkan kecintaan, kepercayaan, ketaatan dan penghormatan terhadap orangtua pada diri setiap murid. Upaya ini, insya Allah, jauh lebih efektif dibanding jika masing-masing menyibukkan diri untuk mengingatkan murid agar menghormati diri. Perintah guru agar anak menghormati orangtua jauh lebih didengar daripada perintah untuk menghormati guru itu sendiri. Begitu pula sebaliknya, iklim penghormatan terhadap guru yang berkembang di rumah lebih mudah membangkitkan kepercayaan dan ketaatan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Menghargai, menyambut dengan hangat ujaran dan nasihat, bergairah dan menghormati gagasan dan pendapat guru merupakan pilar kedua keberhasilan pendidikan di sekolah. Kita lebih mudah menerima, menyerap, mencerna, dan memahami apa yang diajarkan kepada kita apabila ada rasa hormat yang amat dalam pada diri kita terhadap sang pengajar, yakni guru.

Itu berarti, sebelum berbincang tentang kompetensi guru atas materi yang diajarkan serta keterampilan dalam mengajarkan di kelas, kita harus lebih dulu membangun sikap hormat pada setiap diri murid. Jika iklim penghormatan terhadap guru muncul, insya Allah, akan mudah bagi sekolah untuk menumbuhkan dua iklim berikutnya, yakni motivasi dan belajar. Artinya, motivasi sudah merupakan bagian dari iklim sekolah. Bukan hanya kegiatan yang dilakukan pada waktu tertentu.

Tumbuhnya iklim penghormatan (respect climate) di sekolah menjadikan pembelajaran di kelas maupun luar kelas sebagai proses yang menyenangkan. Ada keinginan yang kuat pada diri murid untuk secara terus menerus menemukan pengalaman belajar. Mereka juga belajar membangun kompetensi personal berupa kemampuan menghargai diri, menilai diri, mengendalikan diri, serta menghargai orang lain. Jika suasana ini berkembang secara berkesinambungan, maka setiap murid dapat menjadi penguat bagi murid lain. Di sinilah gairah belajar yang sesungguhnya akan tercipta. Di sinilah pembelajaran yang mandiri akan terbangun.
Pada tingkat ini, keterampilan mengajar yang kurang memadai menjadi ”tidak terlalu mengganggu”. Tentu saja bukan berarti guru boleh mengabaikan aspek ini. Justru sebaliknya, guru harus terus- menerus mengembangkan kemampuan mengajar agar lebih komunikatif. Ingat, salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah tabligh (komunikatif) .

Nah, aspek yang sangat menentukan bagi tumbuhnya sikap respect murid terhadap guru adalah kepercayaan yang bulat. Ini berarti, menumbuhkan rasa hormat murid terhadap guru harus berbarengan dengan upaya membangun kepercayaan. Secara terus menerus kita perlu membangun dan menjaganya, meski guru tersebut sudah tidak lagi mengajar anak-anak kita.

Terakhir, adalah ikatan emosi antara murid dan guru. Ruang kelas yang bisa kita sediakan bagi murid-murid kita mungkin tak begitu nyaman. Tapi bila terdapat hubungan emosi yang sangat hangat dan kuat, maka apa pun bentuk ruangan kelasnya, pembelajaran akan senantiasa terasa menyenangkan. Wallahu a’lam bishawab.
* SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2009
Read More...

Ajak Mereka Mengenali Sesama


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Kepedulian tidak lahir dari banyaknya pengetahuan tentang penderitaan orang-orang yang lemah tak berdaya (dhu’afa). Kepedulian kepada sesama akan muncul dari dekatnya anak dengan orang lain, terutama yang memiliki kedekatan nasab, tempat tinggal maupun persahabatan. Jika anak bergaul dengan orang lain, kepekaan sosial akan mudah tumbuh pada dirinya. Kepekaan inilah yang akan memunculkan kepedulian.

Maka…, apakah yang bisa kita harapkan. Dari sekolah-sekolah yang mengajari muridnya dari pagi sampai sore di sekolah, jika mereka tidak dibiasakan untuk bergaul dengan masyarakat? Anak-anak itu memerlukan kesempatan untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar maupun teman sebaya agar kepekaan sosialnya tumbuh.

Selain itu, pergaulan yang alamiah dengan orang lain diperlukan agar mereka memiliki keterampilan sosial. Melalui pergaulan, anak-anak bisa belajar berempati kepada penderitaan orang-orang yang ia jumpai.
Tetapi kesempatan untuk bergaul dengan orang lain tidak dengan sendirinya menjadikan anak memiliki kepekaan sosial. Ini berarti, selain memberi kesempatan yang memadai untuk bergaul dengan orang lain yang sebaya maupun yang berbeda jauh usianya, anak-anak juga perlu memperoleh dorongan dari sekolah maupun orangtua agar bergaul dengan baik dan memberi manfaat bagi orang lain.

Ini berarti, selain lingkungan yang kondusif, mereka juga memerlukan lingkungan yang suportif. Kondusif berarti lingkungan merangsang anak untuk bergaul dengan orang lain. Sementara suportif berarti ada dorongan secara langsung dari lingkungan terhadap anak.

Tentang berkunjung (ziarah), ada sebuah Hadits yang perlu kita simak:
”Ada seorang lelaki yang hendak menziarahi saudaranya di sebuah desa. Allah mengutus malaikat untuk mengikutinya. Kemudian malaikat bertanya, ‘Akan pergi kemanakah engkau?’ Orang itu berkata, ‘Aku ingin menemui saudaraku di desa ini.’ Malaikat bertanya lagi, ‘Apakah engkau mengharap pemberiannya?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak. Aku hanya mencintainya karena Allah.’” (Riwayat Muslim).
Ketika kita mengunjungi saudara kita karena Allah, kata Najib Khalid Al-’Amir, pada saat itu pula kecintaan kita akan bertambah. Lebih lanjut penulis buku Min Asaalibir Rasul SAW Fit Tarbiyyah menuturkan bahwa saling mengunjungi dalam mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) merupakan cara untuk mengukuhkan jalinan cinta dan persatuan.

Selain itu, berkunjung merupakan kesempatan untuk mengembangkan wawasan dan tukar menukar pengalaman. Tetapi yang paling pokok adalah, kita perlu beri dorongan kepada anak-anak sekaligus memberi pengalaman kepada mereka untuk berkunjung semata karena mengharap ridha Allah SWT. Kita ajak mereka untuk mengunjungi saudaranya seiman dalam rangka memuliakan tuntunan Allah SWT. Bukan karena mengharap dunia. Justru sebaliknya, kita perlu mengasah kepekaan anak-anak itu untuk berbagi dan menolong sesama.

Jika anak-anak –juga kita— mengunjungi saudaranya semata dalam rangka silaturahim, insya Allah setiap langkah akan bermakna. Tak ada yang menimbulkan kekecewaan karena tak ada yang diharap dari pertemuan-pertemuan itu selain ridha Allah ’Azza wa Jalla. Tak ada rasa kehilangan. Nothing to loose. Tak ada rasa kecewa terhadap apa yang kita peroleh. Kalau ada rasa sedih, kita sedih karena melihat keadaan saudara kita sehingga ingin betul rasanya untuk membantu dan memperbaiki. Bukan sedih karena tak memperoleh apa yang diharapkan dari dunia yang dimiliki oleh saudara kita; apakah dunia itu berbentuk harta, kesempatan untuk memperoleh kemudahan atau bentuk lainnya. Dalam keadaan seperti inilah, hubungan antar sesama akan terasa lebih tulus, sehingga menolong sesama tidak terasa sebagai beban.

Menolong Perlu Ilmu
Dorongan untuk menolong akan muncul jika anak memiliki kepekaan. Tetapi kepekaan tanpa dasar ilmu yang jelas, tidak membantu anak untuk mengerti apa yang harus dilakukan. Tidak pula mengerti apakah yang dilakukan berada dalam koridor kebenaran menurut dien atau tidak. Sementara benar tidaknya perbuatan kita, meskipun dilakukan dengan niat yang baik, sangat menentukan nilai perbuatan tersebut di hadapan Allah SWT.

Ini berarti, perlu ada tiga hal. Pertama, bekal ilmu tentang betapa pentingnya membantu sesama Mukmin, dari yang bersifat sunnah hingga wajib. Kedua, memberi dorongan dan membangkitkan kecintaan pada diri anak untuk senantiasa berbuat baik, melakukan hal-hal yang bermanfaat, bersungguh-sungguh dalam kebaikan dan terus-menerus memperbaiki diri. Ini disampaikan melalui berbagai kesempatan, baik secara langsung kita sampaikan kepada anak maupun melalui ungkapan-ungkapan spontan serta memperdengarkan pada anak anjuran berbuat baik yang kita sampaikan kepada orang lain.

Ketiga, melibatkan anak dalam bergaul dengan orang lain sehingga mereka mampu berkomunikasi, menyesuaikan diri, memahami orang lain, menahan diri, dan merangsang kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. Dan pada akhirnya merangsang mereka untuk cepat tanggap terhadap apa-apa yang penting bagi orang lain.
Tanpa memiliki kepekaan dan kemampuan untuk tanggap terhadap kebutuhan orang lain, sulit rasanya anak-anak itu akan meringankan kakinya menolong sesama.

Adapun menolong orang lain, awalnya adalah empati. Ini bisa tumbuh dari kedekatan anak dengan orang lain. Sesudah itu mengenali kebutuhan orang lain, kepekaan tentang apa yang harus ia lakukan, hasrat untuk berbuat, niat yang bulat untuk menolong, lalu beranjak ke tekad yang kuat untuk melakukan apa yang menjadi niatnya. Ini pun masih memerlukan satu hal lagi: kecakapan memberi pertolongan. Tanpa keterampilan menolong, niat yang bulat bisa kandas karena tak bisa berbuat.

Tahapan dari empati sampai keterampilan menolong ini perlu kita perhatikan agar anak-anak bisa menetapi apa yang telah diserukan oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam (SWA). Mari kita ingat ketika Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Mukmin adalah saudara bagi Muslim yang lain. Di antara mereka tidak boleh terdapat sikap saling menganiaya dan saling membiarkan. Barangsiapa yang membantu urusan duniawi saudaranya, Allah ’Azza wa Jalla akan menolongnya pada hari kiamat nanti. Dan barangsiapa yang membebaskan seorang Muslim dari kesulitan duniawi, Dia akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat.” (Riwayat Ahmad).

Berpijak pada Hadits ini, sudah saatnya kita menggerakkan hati anak untuk senantiasa gelisah terhadap penderitaan dan kesulitan orang lain. Kita dorong mereka untuk menolong sesama tanpa mengharap balasan dan imbalan. Sikap saling menolong justru akan muncul apabila setiap anak memiliki keinginan yang kuat untuk menolong tanpa mengharap balasan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Ini belum cukup. Selain kepekaan dan kesigapan untuk menolong, seorang Mukmin tidak boleh saling menganiaya dan saling membiarkan. Wajib kita mengingatkan ketika ada yang berbuat zalim. Lebih-lebih jika yang melakukan kezaliman adalah pemimpin umat ini, dalam lingkup kecil maupun besar. Ini pula yang harus kita ajarkan kepada anak kita.

Semoga kita kelak bisa melihat anak-anak yang dadanya dipenuhi kasih-sayang, tangannya kokoh menegakkan kebenaran dan sikapnya tegas memegang prinsip. Semoga pula anak-anak kita menjadi pengantar kita masuk ke surga-Nya yang tertinggi. Allahumma amin. SUARA HIDAYATULLAH DESEMBER 2008
Read More...

Perlu Alasan Untuk Belajar



Apa yang membuat kita mau berusaha lebih gigih untuk meraih sesuatu? Macam-macam. Banyak hal yang bisa menggerakkan kita untuk bertindak lebih serius. Tak peduli suka atau tidak, kita bersungguh-sungguh mengerjakannya.

Apa yang menjadikan kita bersedia meluangkan waktu lebih banyak dan belajar lebih keras? Sama juga. Ada berbagai faktor yang bisa memaksa kita untuk menekuni sesuatu dan mengabaikan yang lainnya. Sebagaimana ada banyak alasan yang bisa menggairahkan kita untuk bertekun-tekun mengkaji sesuatu. Karena takut, kita bisa bersungguh-
sungguh melakukan sesuatu agar terhindar dari bahaya yang mengancam. Karena tekanan, kita bisa bertahan untuk melakukan apa yang tidak kita sukai. Atau karena suka, kita bisa lupa waktu bahwa malam sudah beranjak mendekati pagi. Kita masih asyik membuka-buka buku yang sudah tiga atau empat kali kita nikmati.

Sebagaimana kita, anak-anak melakukan sesuatu juga karena satu alasan. Harus ada yang menjadi penggerak; sebuah alasan mengapa ia harus melakukan sesuatu dan mewujudkan tujuannya. Jika kita membangkitkan dalam diri mereka satu alasan yang kuat, mereka akan belajar dengan sangat serius dan sungguh-sungguh, meskipun kita sedang tertidur lelap. Tetapi jika kita berangkat dari pertanyaan apa yang membuat mereka belajar, maka kita akan sibuk untuk terus-menerus menyuruh atau menyediakan apa yang bisa menggerakkan mereka untuk belajar: terpaksa atau tidak. Bukan berarti kita tidak perlu bertanya apa yang membuat mereka belajar, tetapi pertanyaan ini seharusnya ada setelah kita menumbuhkan dalam diri anak-anak itu alasan mengapa mereka perlu bersungguh-sungguh memeras keringat mereka untuk mencari ‘ilmu dan menanamkan kebanggaan terhadapnya; bangga menjadi orang yang rela lecet kakinya untuk mengejar ilmu.

Menumbuhkan Sikap Belajar
Jika anak-anak memiliki alasan yang kuat untuk belajar, maka usaha untuk membuat mereka nyaman belajar akan mendorong mereka lebih bergairah menyerap ilmu. Keterampilan belajar kita bangun sesudah sikap belajar tumbuh dalam diri anak didik kita. Ini berarti menumbuhkan sikap belajar jauh lebih mendesak daripada kemampuan memahami pelajaran, terutama untuk siswa SD kelas bawah. Sikap belajar yang positif akan membangkitkan antusiasme. Inilah yang menjadikan anak senang belajar. Mereka belajar karena mereka ingin melakukannya. Bukan karena ancaman.

Pertanyaannya, bukankah tanpa ancaman anak-anak cenderung malas belajar? Hemm…. Ancaman memang bisa membuat mereka belajar asalkan rasa takut itu masih ada. Tetapi ketika sudah terbiasa, mereka tak lagi bersedia membuang-buang waktu untuk menyimak buku-buku pelajaran. Akibatnya, kita perlu memberi ancaman yang lebih besar agar mereka bersedia belajar.

Tekanan yang kita berikan kepada mereka juga dapat menjadikan anak-anak lebih tekun belajar. Apalagi jika ada unsur penguat, misalnya mengulang di kelas 6 bersama adiknya jika tidak lulus UASBN. Tetapi segera setelah tekanan itu berlalu, kesediaan mereka untuk belajar akan hilang. Lebih-lebih jika kita sendiri sudah tidak terlalu peduli apakah mereka belajar atau tidak, kesediaan mereka belajar akan lebih merosot lagi. Padahal, kesediaan untuk belajar sangat berbeda dengan kemauan. Mau belajar tidak sama dengan kemauan untuk belajar.

Di luar itu, hilangnya kepedulian kita terhadap kegiatan belajar anak tatkala tidak menghadapi ujian juga menunjukkan bahwa kita sendiri tidak mempunyai cukup alasan kenapa belajar itu penting. Padahal, alasan mengapa (the reason why) perlu belajar jauh lebih penting daripada apa yang bisa menjadikan anak mau belajar. Yang pertama membangkitkan kemauan belajar, sedangkan yang kedua hanya menjadikan mereka mau belajar. Bukan kemauan. Ini berarti, mereka akan segera meninggalkan kegiatan membosankan ini apabila ujian sudah berlalu atau ujian dirasa masih jauh. Sementara ketika ujian sudah dekat, mereka menghadapi stress yang cukup berat.

Lalu, apa yang bisa kita simpulkan jika ternyata stress dan pola belajar keras hanya ketika menghadapi ujian juga dianut oleh guru dan sekolah? Sederhana sekali. Pola ini dengan jelas menunjukkan bahwa sekolah sendiri tidak menaruh perhatian pada pembentukan budaya belajar. Sekolah hanya memperhatikan materi ujian dan prestasi akademik yang bahkan lebih layak disebut kemampuan kognitif semata.

Apa yang terjadi kemudian, bisa kita ramalkan dengan mudah. Tanpa alasan yang kuat, sekolah akan sibuk dengan stress tahunan. Setiap menjelang ujian, tiga atau empat bulan sebelumnya, ada stress massal yang terjadi pada guru, siswa, dan wali siswa. Uniknya, stress massal ini terus-menerus mencengkeram dari tahun ke tahun tanpa ada usaha berarti untuk mengubahnya menjadi gairah. Seakan sudah menjadi suratan takdir. Paling-paling, alih-alih menemukan akar masalahnya dan menyelesaikannya dengan tuntas, kita justru sibuk menyalahkan UASBN – UAN. Padahal, tak ada yang perlu dicemaskan jika anak-anak kita sudah memiliki budaya belajar yang kuat. Mereka memang tidak menjadikan sukses UAN sebagai tujuan, tetapi gairah belajar mereka yang kuat dengan sendirinya menjadikan UAN tak lagi menakutkan.

Pertanyaannya, bagaimana cara menyuntikkan alasan yang kuat dalam diri anak-anak sehingga mereka berhasrat belajar? Cara paling sederhana adalah memotivasi. Bukan sekedar menyemangati. Ada dua pendekatan motivasi yang perlu kita pahami agar bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, yakni motivasi lembut (soft motivation) dan motivasi keras (hard motivation). Yang pertama, menitikberatkan pada penghayatan nilai-nilai hidup melalui dialog antara pendidik dan anak-anak.

Salah satu cara untuk menumbuhkan orientasi hidup yang baik dalam diri anak adalah dengan sering mengajak mereka berpikir tentang apa yang ingin mereka perbuat bagi umat dan agama ini kelak ketika mereka dewasa. Kita memberi rangsangan kepada mereka agar memiliki tekad yang kuat untuk berbuat baik. Keinginan berbuat itulah yang menjadi orientasi hidupnya sekaligus cita-citanya di masa dewasa. Bukan sekadar menjadi apa.

Motivasi lembut memang lebih lambat prosesnya. Tetapi ia lebih kuat pengaruhnya, bisa dilakukan setiap orang, dan tidak memerlukan kemampuan vokal yang bagus. Sedangkan motivasi keras, lebih cepat kelihatan hasilnya sekaligus relatif cepat luntur. Tak menunggu waktu lama untuk melihat pengaruhnya. Belum selesai kegiatan motivasi diberikan, kita sudah bisa melihat betapa terpengaruhnya mereka. Airmata sudah tumpah, tangan sudah mengepal, dan dada mereka sudah menggelegak dengan semangat yang berkobar-kobar. Tekad besar seketika muncul. Kesulitan harus ditaklukkan sekarang juga!!!

Ini bukan berarti tak ada tempat bagi motivasi keras. Ibarat shalat, ada yang perlu seremoni semisal shalat Jumat. Bahkan ada yang perlu seremoni lebih banyak lagi seperti shalat ‘Ied. Tetapi pilar utamanya tetap shalat lima waktu setiap harinya.

Motivasi juga demikian. Kegiatan motivasi yang menggunakan seremoni sekali waktu bisa saja kita selenggarakan untuk menggugah lebih cepat dan menggerakkan lebih dahsyat. Tetapi yang jauh lebih penting adalah motivasi sehari-hari, meskipun namanya bukan motivasi. Kita perlu senantiasa mengingatkan, menumbuhkan dan merawat niat anak didik kita dalam belajar.

Inilah yang perlu diingat oleh para guru. Setiap hari kita perlu menggerakkan hati anak didik kita sebelum memberi pelajaran kepada mereka. Hati yang mengingini akan mudah menerima pengetahuan yang diajarkan. Sebaliknya otak cerdas tanpa keinginan yang cukup, membuat pelajaran yang sederhana pun mudah mereka lupakan.

Kuatnya keinginan terhadap ilmu mendorong kita untuk lebih bersemangat memahami, mengkaji dan mewujudkan. Bukan sekadar mengingat sesaat dan tak berselang lama sudah lupa kembali.
Agaknya, ada yang perlu kita pikirkan berkait dengan pendidikan anak-anak kita di sekolah. Ada alasan yang perlu kita bangun dalam diri anak-anak kita untuk belajar lebih serius, lebih gigih dan lebih bersemangat. Sebuah alasan yang benar-benar mendasar.
Bagaimana…? SUARA HIDYATAULLAH APRIL 2010
Read More...

Beri Kepercayaan dan Jangan Pernah Tertawakan

Kedua anak saya sudah menanti waktu pertunjukan Mr Hayes yang akan mematahkan 100 balok kayu dalam waktu 10 detik. Mr. Hayes pemilik sekaligus guru taekwondow mereka di ATA Black Belt Academy.

Akhirnya jam 10 pagi, kami sekeluarga berangkat menuju tempat taekwondow mereka yang jauhnya 1 mile, tidak sampai 5 menit sudah sampai. Sesampai di sana sudah banyak teman-teman mereka yang hadir lengkap dengan seragam taekwondo, atas-bawah putih dengan sabuk berwarna sesuai tingkatan kemampuan anak. Anak-anak saya tidak memakai seragam karena niatnya hanya mau menonton Mr Hayes saja.

Saat memasuki kelas, kedua anak saya diminta bergabung dengan anak-anak yang lain untuk duduk di tempat latihan menonton video Power Kiz. Film tersebut bercerita tentang pertahan diri untuk anak-anak. Bagaimana jika mereka didekati orang tidak dikenal. Bagaimana melawan orang yang menangkap mereka, juga praktek langsung jika berhadapan dengan orang jahat. Anak berlatih memukul bagian hidung, leher, mata dan telinga orang jahat tersebut.

Setelah menonton film tersebut lalu ada atraksi anak-anak yang sudah sabuk hitam. Mematahkan papan kayu, menendang, lalu bermain dengan senjata. Saya perhatian anak-anak tersebut terlihat memiliki kepercayaan diri yang tinggi saat melakukan pertunjukan tersebut.

Sebenarnya itulah tujuan utama saya memasukan anak-anak ke ATA, agar mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sehingga mereka tidak takut menghadapi tantangan dalam kehidupan. Saat pertunjukan juga ada kesempatan bagi yang hadir untuk belajar memecahkan papan kayu. Mendengar tawaran tersebut, saya tawarkan pada kedua anak saya. Tetapi mereka tidak mau. Ya sudahlah saya tidak memaksa, saya hargai keputusan mereka.

Anak-anak yang mau belajar memecahkan papan sudah berjejer di tempat latihan. Kedua anak saya duduk di samping saya, tak tertarik. Tak lama ada pelatih mereka yang melihat kedua anak saya yang hanya duduk saja. Mr. White pun datang, jongkok di hadapan mereka dan mengajak mereka untuk turun ke lapangan. Ajaib! Mereka langsung mau.

Mulailah anak-anak berlatih melakukan pukulan. Pertama dengan kertas lalu dengan busa dan terakhir dengan kayu. Saat akan melakukan dengan kayu beneran, Mr Hayes berkata pada anak-anak tersebut.

”Yang kamu butuhkan untuk memecahkan papan kayu adalah believe in your self! Kalau kamu tidak percaya diri, kamu tidak akan bisa. Fokus, lihat ke papan dan pukul! Kamu pasti bisa.”

Anak-anak terlihat antusias dan semangat, termasuk peserta termuda usianya 4 tahun. Semua anak berhasil memecahkan papan kayu, termasuk kedua anak saya. Wow, kami bangga melihat mereka berhasil memecahkan papan tersebut. Mereka berhasil karena mereka yakin bisa memecahkan papan tersebut.

Hebatnya di ATA anak-anaknya begitu patuh dengan pelatihnya, kompak dan pada percaya diri. Salut dengan para pelatih yang bisa mengarahkan mengobarkan semanggat anak-anak tersebut. Papan-papan kayu anak tersebut kemudian dibawa pulang sebagai kenangan papan pertama yang dipatahkan. Juga di papan di tanda tangani oleh pelatih-pelatih mereka. Setelah itu acara puncak, memecahkan 100 papan dalam waktu 10 detik dan ternyata Mr Hayes dapat melakukannya dalam waktu 9,6 detik. Selamat Mr Hayes!

Setelah pulang dari pertunjukkan tersebut saya pun merenung. Saya bertanya pada diri sendiri. Apa yang sudah saya lakukan untuk menumbuhkan kepercayaan anak-anak saya pada diri mereka selama ini?

Padahal jika saya ingin mereka berprestasi dalam kehidupan mereka tugas pertama saya adalah membangun kepercayaan diri mereka. Tanpa kepercayaan diri mereka akan merasa tidak memiliki harapan dan merasa tak berdaya.

Sedangkan percaya diri akan tumbuh subur dan efektif jika anak merasa mampu. Dimana orang dewasa menghormati mereka dan menilai mereka sebagai seseorang yang berkuasa pada diri mereka sendiri. Caranya, dengan memberi mereka harapan pada masa depan mereka.

Sama seperti yang dilakukan Mr. Hayes memberi harapan kepada anak-anak tersebut dengan mengobarkan semanggat dan mengarahkan bagaimana caranya untuk sukses memecahkan papan kayu. Hasilnya anak-anak itu berhasil dengan penuh kebanggaan dalam jiwanya.

Bangun Rasa Percaya Dirinya

Rasa percaya diri anak akan tumbuh subur jika anak merasa berkuasa dan memiliki tanggungjawab pada dirinya. Anak bukan digunakan sebagai alat pemuasan keinginan orangtua sehingga segala sesuatunya diatur oleh orangtua. Bahkan anak tidak diberikan kebebasan dalam melakukan kegiatan sehari-hari sampai masa depan anak sendiri.

Untuk itu yang dapat dilakukan orangtua untuk membangun kepercayaan diri anak antara lain adalah:

Melihat anak sebagai pribadi yang unik dan menghargai setiap usaha anak. Tidak membandingkan seorang anak dengan saudara kandung atau kawan sebayanya. Melihat kelebihan anak dari pada kekurangan anak. Mendukung minat anak walaupun berbeda dengan keinginan kita sebagai orangtua. Kadangkala sebagai orangtua tanpa kita sadari kita telah membandingkan anak dengan saudaranya. “Kamu ini makan berantakan. Adik kamu bisa makan dengan rapi.” “Kakak kamu suka gambar. Masa kamu tidak tidak suka gambar.”
Realistis Terhadap Kemampuan Anak. Pelajarilah tumbuh kembang anak. Jangan mengharapkan anak melakukan sesuatu untuk meningkatkan gengsi Anda. Misalnya saja saat ini orangtua berlomba-lomba mengajarkan anaknya membaca sejak bayi. Orangtua bangga jika anaknya dapat membaca sejak dini. Padahal semua itu sebenarnya bukan untuk anak tetapi untuk memenuhi keinginan gengsi orangtua saja.
Berilah kebebasan pada anak untuk melakukan kesalahan alias biarkan anak belajar dari kesalahan tersebut. Ingatkan anak untuk tidak takut gagal. Ajarkan anak ketrampilan dalam memecahkan masalah agar mereka bisa terus berusaha. Daripada Anda memikirkan kesalahan anak lebih baik memusatkan pikiran bagaimana cara menyemangati anak.
Bangun kesuksesan. Ciptakan suasana untuk meminimalkan kegagalan. Misalnya dengan memerinci tugas ke dalam rentetan langkah mudah dan menceritakan mereka secara jelas dan singkat. Sediakan latihan. Beri anak kesempatan untuk berpartisipasi di bidang yang mereka kuasai.
Semangati anak. Lihat usaha yang sudah dilakukan anak, daripada kecewa dengan hasil yang dicapai oleh anak.
Hargai perasaaan anak. Ajarkan anak untuk menerima dan menghadapi perasaannya sendiri. Jika anak merasa kecewa dengan teman mainnya, dengarkan apa yang dirasakan anak, berikan tanggapan terhadap apa yang dirasakan anak.
Berikan ia pilihan. Anak tidak akan mengetahui pengertian kepemilikan dan tanggung jawab, jika orang lain selalu mengambil keputusan terhadap apa akan mereka melakukan. Untuk itu berikan pilihan sesuai umur anak, juga ijinkan mereka untuk mengadakan percobaan.
Berikan tanggungjawab dan ajarkan untuk bekerjasama. Beri kesempatan pada anak untuk menolong atau melakukan tugas di rumah. Hindari membantu anak melakukan sesuatu jika hal tersebut dapat dilakukan oleh anak sendiri. Misalnya, biarkan anak memakai sepatu sendiri walaupun Anda harus menunggu.
Bangun sense of humor. Tetapi jangan pernah sekali-kali mentertawakannya.

Meidya Derni, penulis buku “Jilbab Di Pelukan Uncle Sam” (Salamadani) dan “Princess Adila dan Karcis Sirkus” (DAR Mizan). Penulis tinggal di Amerika
Read More...

Motivasi Intrisik

Seorang ibu bertanya tentang anaknya. Sejak kecil selalu memperoleh ranking bagus di kelasnya. Prestasi akademik selalu cemerlang. Tetapi belakangan minat belajarnya merosot drastis. Tak ada gairah belajar. Tak ada minat untuk mengerjakan PR. Ketika ibunya mengingatkan untuk belajar lebih giat agar rankingnya tidak jeblok, ia berkata, “Aku bosan sama ranking.”

Pertanyaan ibu ini mengingatkan saya pada teori motivasi. Ada motivasi ekstrinsik, ada motivasi intrinsik. Anak kita menyapu lantai agar mendapat sebiji permen dari orangtua, tekun belajar agar dapat ranking satu (karena nanti kita belikan ia sebuah sepeda mungil), atau bersemangat memberesi kamar agar diajak jalan-jalan, adalah contoh motivasi ekstrinsik. Anak melakukan aktivitas apa pun, termasuk shalat dan mengaji, karena ingin mendapatkan hadiah yang dijanjikan kepadanya merupakan bentuk motivasi ekstrinsik. Kita rajin puasa Senin-Kamis karena ingin lulus ujian, bukan karena berserah diri kepada Allah Yang Maha Tinggi.

Motivasi ekstrinsik cepat pudar. Anak mudah kehilangan semangat karena hadiah yang dijanjikan –termasuk hadiah berupa “ranking”—tidak lagi memiliki daya tarik. Semangatnya melemah (less zeal) karena imbalan yang diberikan meaningless (kehilangan makna), sehingga tak ada lagi alasan untuk mengejar. Seperti anak ibu tadi, mereka bisa bosan dapat ranking yang bagus.
Kapan anak merasa bosan? Ketika anak merasa hadiah itu tak memberi manfaat apa-apa. Anak-anak tidak membutuhkan. Kalau dulu anak bersemangat menyapu untuk memperoleh permen, sekarang permen sudah tidak menarik lagi. Anak butuh rangsangan lebih besar untuk bertindak.

Cepat lambatnya anak merasa bosan dipengaruhi sekurangnya oleh dua hal. Pertama, nilai imbalan atau hadiah yang dijanjikan kepada anak. Setiap hadiah akan mengalami penyusutan nilai bagi anak. Saat anak belum pernah memegang, sebuah mobil mainan sangat menggiurkan bagi anak. Tetapi ketika berbagai jenis mainan sudah sering ia pegang, mobil-mobilan yang bagus lengkap dengan remote controlnya pun sudah tidak menarik lagi.

Melemahnya daya tarik imbalan juga dipengaruhi oleh ada tidaknya aktivitas yang memberi daya tarik lebih besar. Video-game, misalnya. Semakin kuat keasyikan yang diperoleh anak saat bermain play-station, semakin lemah daya tarik imbalan yang kita janjikan agar anak mau belajar yang rajin. Lebih-lebih jika aktivitas lain yang mengasyikkan itu pada saat yang sama juga menyerap seluruh energi psikis anak sekaligus membuat anak pasif. Berbagai jenis game –juga tayangan TV—membuat anak terpaku secara pasif. Mereka dibombardir dengan gambar-gambar kekerasan yang berganti dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga memaksa mereka untuk terus memperhatikan tanpa berkedip.

Aktivitas semacam ini membuat anak mengalami kelelahan secara psikis. Ibarat truk, bebannya berlebih. Ibarat komputer, sistemnya hang. Macet. Meskipun kemampuannya sangat besar dan kecepatan prosesor sangat tinggi, tetapi tidak mampu mengerjakan tugas dengan baik. Anak-anak yang sedang hang, tidak mampu memusatkan perhatian saat belajar dan sulit mencerna buku yang ia baca. Pikirannya dipenuhi bayang-bayang permainan yang ia pelototi di video-game. Dalam bahasa komputer, anak ini mengalami registry error. Badannya ada di kelas, telinganya mendengar suara guru, tetapi pikirannya ada di play-station.

Ketika anak mengalami hang, ia kehilangan rasa ingin tahu. Kreativitasnya tumpul. Ia tidak betah berpikir, mencari tahu dan menekuni kegiatan yang menuntutnya berpikir aktif. Ia kehilangan gagasan dan kecemerlangan berpikir, kecuali pikiran untuk kembali menyibukkan diri dengan video-game atau tayangan TV. Pada tingkat yang parah, anak mengalami kecanduan.

Anak yang terlalu banyak memelototi video-game sampai pada tingkat yang sangat menguras energi psikis, cenderung sangat pasif atau justru sebaliknya amat agresif. Mereka bisa seperi orang linglung. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Bisa juga sangat ganas. Mereka berperilaku sangat agresif karena pengaruh adegan yang disaksikan. Bukan karena dorongan kecerdasan.

Bisa juga terjadi anak pasif sekaligus impulsif. Secara sosial, mereka terputus dari lingkungan. Pada anak-anak yang tingkat kecanduannya sudah sangat akut, boleh dikata mereka tidak mempunyai kontak dengan orang lain, termasuk orangtua. Interaksinya cuma dengan benda bernama TV, play-station atau layar komputer yang menyajikan game. Mereka tidak betah berinteraksi dengan orang lain. Di saat yang sama, adegan kekerasan yang bertubi-tubi –khususnya dalam video-game—memberi efek desensitisasi. Perasaan mereka tumpul. Hati mereka keras.

Berapa jam waktu menonton yang sehat bagi anak? Sekitar 8 sampai 10 jam seminggu. Itu pun dengan catatan tayangannya masih cukup sehat. Jika tayangannya benar-benar sangat edukatif dan merangsang daya nalar anak, mereka bisa menonton maksimal 15 jam seminggu. Lebih dari itu sudah tidak sehat. Apalagi kalau acaranya banyak menayangkan kekerasan, jam menonton harus dipersingkat. Dalam The Smart Parent’s Guide to KIDS’ TV, Milton Chen menunjukkan bahwa durasi 4 jam sehari (28 jam seminggu) sudah termasuk kategori yang sangat menakutkan. Benar-benar membahayakan mental dan kepribadian anak. Apalagi kalau tayangan itu berupa video-game yang dari detik ke detik hanya menyajikan kekerasan, keganasan dan cuma memancing reaksi impulsif anak.

Alhasil, tak ada yang perlu kita salahkan kecuali diri sendiri kalau anak-anak kita kehilangan motivasi belajar, sementara setiap hari mereka memelototi TV enam jam sehari! Agaknya, ada benarnya ketika Fred Rogers berkata, “Barangkali televisi adalah satu-satunya peralatan elektronik yang lebih bermanfaat justru setelah dimatikan.”
Kedua, cepat lambatnya anak merasa bosan dipengaruhi oleh tekanan yang mereka terima. Anak yang sering dibebani untuk mendapatkan ranking, cenderung cepat kehilangan minat. Ia belajar di bawah tekanan karena tidak ingin orangtuanya cemberut. Selebihnya, tak ada alasan yang menggerakkan jiwa untuk tekun membaca.
Motivasi ekstrinsik terbagi menjadi dua, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek misalnya permen yang kita berikan begitu anak menyapu, jangka panjang misalnya iming-iming pada anak kelas 4 SD kalau lulus UASBN dengan nilai tinggi akan dibelikan laptop baru. Semakin pendek dan nyata iming-iming yang kita berikan, semakin cepat kelihatan reaksinya, sekaligus semakin mudah hilang kekuatannya. Anak-anak yang digerakkan oleh motivasi ekstrinsik jangka pendek, ibaratnya sama dengan mobil mewah tanpa bensin. Kalau lagi didorong, jalan. Tapi kalau tak ada yang mendorong, mogok. Mobil tak bisa berjalan lagi.

Anak-anak yang memiliki motivasi intrinsik, sebaliknya, merasa asyik dengan apa yang dikerjakan, menemukan kegembiraan saat menghadapi tantangan, bahagia ketika mengerjakan tugas-tugas sehingga ia terlibat penuh secara emosional. Mereka berpartisipasi melakukan kegiatan karena menemukan kegembiraan, kebahagiaan, keasyikan atau makna dari apa yang dilakukannya. Bukan demi memperoleh hadiah. Dalam tindakan itu sendiri, ada yang ia dapatkan sebagaimana pendaki gunung memperoleh kepuasan. Kebahagiaannya terletak pada kemampuannya mengatasi rintangan. Bukan pada decak kagum orang yang memandang.

Dalam bukunya berjudul Adolescence (2001), John W. Santrock menulis bahwa motivasi intrinsik sangat mempengaruhi kreativitas dan rasa ingin tahu anak (natural curiosity). Anak-anak yang motivasi intrinsiknya kuat cenderung lebih kreatif, kaya gagasan, senantiasa menemukan ide-ide segar –pada tahap awal adalah ide-ide permainan—serta ketertarikan yang kuat dalam melakukan berbagai aktivitas. Mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, minat yang luas dan cenderung memiliki semangat belajar mandiri yang kuat.

Anak-anak yang memiliki motivasi intrinsik, betah membaca berjam-jam meskipun tidak ditunggui orangtua. Mereka merasa membaca sebagai kebutuhan. Bukan tuntutan orangtua dan sekolah.

Adakalanya anak memiliki motivasi intrinsik untuk suatu bidang, tetapi tidak untuk bidang yang lain. Adakalanya anak memiliki motivasi intrinsik untuk hampir semua bidang. Kapan saja, dimana saja dan mengerjakan apa saja, ia bersemangat. Bersungguh-sungguh ia belajar, meskipun tidak begitu menguasai.

Kuatnya motivasi intrinsik mampu membuat seseorang berani menghadapi kesulitan. Kisah tentang Imam Bukhari adalah kisah tentang manusia yang memiliki motivasi intrinsik luar biasa. Ia menempuh perjalanan beratus-ratus kilo, memenuhi kakinya dengan kepenatan, dan membiarkan tubuhnya disengat oleh panasnya matahari demi mendapatkan sebuah hadis. Kalau ia menginginkan harta dari penguasa, tak perlu ia menghabiskan waktu hanya untuk mendapatkan sebuah hadis yang belum tentu ia ambil (karena hadis itu ternyata dha’if, misalnya). Tetapi ada kekuatan jiwa yang menggerakkannya. Ada kecintaan pada agama yang membuatnya tak pernah berhenti mencari ilmu.

Kalau motivasi intrinsiknya sudah kuat, tanpa fasilitas yang memadai pun mereka bisa tumbuh menjadi manusia cerdas luar biasa. Nama-nama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad ibn Hanbal atau –apalagi—Abu Hurairah, bukanlah orang yang memiliki cukup sarana untuk belajar. Tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan jiwa menakjubkan. Dahsyatnya motivasi mereka untuk menolong agama membuat daya ingat mereka sangat hebat dan pikiran mereka amat jernih.

Kisah para penemu juga merupakan kisah tentang motivasi intrinsik yang kuat. Bukan kisah tentang banyaknya fasilitas yang mereka miliki. Orang-orang super kreatif bukanlah mereka yang memperoleh latihan gerak dengan iringan musik yang –kadang tanpa disadari guru—sensual. Pernah, saya merasa amat sedih ketika menghadiri acara tutup tahun sebuah lembaga pendidikan. Atas nama kreativitas, anak-anak disuruh lenggak-lenggok memutar badan á la peragawati, diiringi dengan alunan musik menggoda. Seorang guru berdiri di samping, di seberang panggung, untuk mengawasi sekaligus mengarahkan dengan gerak mulut dan mata.

Mereka lupa –atau tidak tahu—bahwa ketika seorang anak menggerakkan dadanya, lalu memperoleh tepuk tangan meriah, yang menari-nari di benaknya bukanlah “isyhadu bi anna muslimun”, melainkan sensualitas. Bukan kreativitas.
Oleh : M. Fauzil Adhim
Read More...

Bersiaplah untuk kecewa

|Mohammad Fauzil Adhim|
Ada kabar dari geoff colvin , editor senior di majalah Fortune, penulis sekaligus dosen ini menyuguhkan data mengejutkan dalam bukunya bertajuk Talen is overrated (2008). Buku tersebut menunjukan betapa kita terlalu berlebihan memuja-muja bakat dan kejeniusan padahal semuat itu nyaris tak memberi manfaat apa-apa utnuk bagi masa depan anak, baik meraih sukses maupun kebahagiaan.
Bakat dan kejeniusan bukanlah kunci utama meraih sukses apapun bidang yang ia tekuni kunci paling pokok untuk meraih sukses bukan bakat besar maupun kejeniusan bukan pula keterampilan melakukan hal-hal yang diangap luar biasa oleh orang pada umumnya.banyak pebisnis maupun intelektual sukses yang IQ- nya rata-rata bukan superior apalagi jenius bahkan ada yang IQ sedikit dibawah rata-rata tetapi ia memiliki ketahanan mental yang luar biasa untuk belajar menghadapi kesulitan, termasuk hambatan fisik.
Sebagian orang sukses memang memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata dia benar-benar memiliki kemampuan intelektual yang bagus, bukan sekedar mampu mempertunjukkan kebolehan yang bersifat langka tetapi harus di catat bahwa mereka meraih sukses itu melallui kerja keras yang luar biasa hebat dalam belajar. Meraka gigih belajar dan berlatih takkala orang lain sudah terlelap. Kisah sukses imam syafi’i ra misalnya bukan terutama soal kecerdasan tetapi berkait erat dengan kemampuan belajar yang luar biasa sekaligus kesanggupan untuk menghadapi kesulitan. Ini menjadikan seoran imam syafi’i yang ketika itu masih kanak-kanak mampu bertahan untuk menyimak pelajaran dari luar keras disebabkan ia tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk belajar di dalam kelas sebagai mana anak lain. Kisah Imam bukhori mencari sebuah hadits adalah contoh lain tentang betapa berharganya kesediaan untuk menderita demi meraih apa yang di yakininya berharga ia rela menempuh perjalanan panjang yang sulit hanya untuk memperoleh sebuah hadits meskipun hadits itu akhirnya tidak ia perhitungkan karna ternyata lemah.
Contoh lain anda tentu masih ingat kisah Billy Sidis yang saya sampaikan di majalah ini nama lengkapnya William James Sidis anak dari Prof. Dr.Boris Sidis orang yahudi yang menggagumi William James seorang ahli pysikologi. Secara intelektual Billy luar biasa cerdas IQ-nya 200 jauh diatas Albert Einstein usia 5 tahun sudah mampu menulis karya ilmiah tentang anatomi, usia 11 tahun kuliah di Harvard University unifersitas terkemuka di dunia yang terkenal dangan orang-orang cerdasnya dan pada usia 14 tahun memberi kuliah di unifersitas yang sama semua catatan ini menggukuhkanya sebagai anak jenius.
Pertanyaanya apakah yang bisa didapat dari k ejeniusannya ia benar-benar anak jenius yang sempurna tetapi kejeniusannya itu tidak memberi manfaat apa-apa baginya. Ia mampu berfikir rumit dan memecahakan masalah-masalah akademis jauh melampui anak-anak seusiannya bahkan lebih unggul di banding orang d ewasa tapi perkembanggan sosial emosional dan komunikasinya tidak sejalan dengan kemampuan kognitifnya. Kemampuan intelektualnya yang luar biasa tidak mampu menolongya berprilaku secara lebih dewasa sesuai usianya inilah yang kemudian menjadi masalah besar dalam hidupnya sehingga ia memilih menarik diri dari dunia intelektual lalu bekerja tukang cuci piring di rumah makan sampai akhir hayatnya.
Kasus Billy hanya salah satu anak saja. Anak-anak yang memiliki kecerdasan luar biasa, atau mereka hanya disibukkan dengan belajar secara akademik,cenderung menjadi pribadi yang matang dan rentan masalah jika mereka kurang memperoleh kesempatan berkembang secara alamiah. Kerentanan ini akan meningkat manakala anak-anak dipacu untuk menunjukkan prestasi yang bisa membanggakan orang tua atau melakukan yang bisa membangkitkan kebanggaan orang terhadapnya. Ia membuat anak sibuk melakukan hal-hal yang tampak luar biasa, meskipun sesungguhnya tidak penting bagi kehidupannya dimas kini maupun masa mendatang. Mungkin ia memang mampu menunjukkan prestasi tersebut(real achievement). Hanya saja yang diperlukan oleh seorang anak agat ia memiliki motivasi yang benar-benar kuat adalah prestasi yang sesungguhnya (true achivement). Begitu Janine walker Caffrey,Ed.D., menulis dalam bukunya yang berjudul Drive: 9 way to motivate your kids to achieve (2008).
Jadi sekedar jenius tidak cukup. Apalagi jika yang terjadi sesungguhnya bukan kejeniusan, melainkan perilaku yang mengesankan sebagai jenius (play acting as genius). Permaian kesan ini muncul dari orang-orang yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, bisa juga pada mereka yang biasa-biasa saja. Tidak sedikit prilaku yang dibentuk oleh orangtua atau orang dewasa lainya pada anak, sehingga orang lain menganggap hebat. Sementara anak itu sendiri boleh jadi merasa dirinya hebat, boleh jadi mempunyai waham kebesaran (grandeur delusion-keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuaidengan kenyataan atau tidak sesuai dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan.) dan bisa anak sepenuhnya mengetahui bahwa ia tidak sehebat yang dilihat orang.
Banyak peristiwa dalam sejarah yang menunjukkan upaya untuk mengesankan diri atau anak sebagai jenius. Wolfgang Amadeus Mozart pernah menyatakan bahwa ia menggubah kosentro sekali jadi. Tetapi kemudian diketahui bahwa ia menyusun sebuah kosentro bahkan dalam waktu bertahun-tahun. Bukan Cuma setahun, apalagi sekali jadi. Hanya saja ia berlatih keras dan pada waktu yang tepat ia seperti memperoleh ilham, lalu mempertunjukkan karya “sekali jadi” yang sudah ia susun bertahun-tahun itu.
Ada juga, Miguel Najdorf, grand master catur Argentina keturunan Polandia, bermain catur dengan mata tertutup (blindfolded chess) secara simultan sebanyak 45 kali. Ia ingin menunjukkan sebagai orang jenius yang memiliki daya ingat yang sempurna. Ini terjadi pada tahun1947-jauh sebelum saya lahir. Sebelum itu master dari Czech, Ricard Reti yang melakukan permainan catur dengan cara yang sama secara simultan sebanyak 29 kali. Ia memiliki daya ingat yang sempurna. Tetapi di akhir pertandingan, ia lupa membawa pulang kopernya.
Lebih penting dari itu semua, mereka tidak mampu menunjukkan kejeniusan tatkala diuji secara sistematis. Mereka mempertunjukkan kemampuan sebagai pembktian (proofing) atas”kejeniuasan” mereka. Tetapi mereka tidak mampu memberi bukti yang dapat diuji (evidences).
Ini sama seperti anggapan bahwa musik menjadikan anak jenius. Tak ada bukti secara utuh mampu menunjukkan. Yang ada hanyalah, memperdengarkan musik saat belajar menjadikan emosi anak aktif. Tetapi ini tidak serta merta menjadikan anak lebih cerdas. Begitu pula memperdengarkan musik klasik pada bayi. Menukil dari Alex Ross, Colvin menulis “Orangtua yang ambisius dan sekarang ini sedang mempertontonkan video”Baby Mozart” kepada bayinya bisa kecewa tatkala mempelajari bahwa Mozart menjadi Mozart karena kerja keras yang luar biasa.” Nah.” ( kolom parenting Suara Hidayatullah Edisi Desember 2010)
Read More...

Sekolah yang Menggairahkan

| By.M. Fauzil Adhim|

Perkembangan otak yang paling pesat terjadi pada rentang usia 0-8 tahun, baik secara fisik maupun intelektual. Delapan puluh persen perkembangan otak terjadi antara usia nol sampai dengan enam tahun.Selama rentang waktu tersebut, IQ anak dapat melonjak secara drastis jika memperoleh rangsangan yang tepat dari orangtua maupun pengasuh di day-care –kita menyebutnya TPA—dan play-group. Selanjutnya, peran strategis tersebut dipegang oleh guru TK dan SD kelas bawah, yakni kelas satu sampai dengan kelas tiga (itu sebabnya, perencanaan kurikulum TK perlu dikerjakan bersama dalam satu kesatuan dengan penyusunan kurikulum SD). Inilah masa paling penting untuk memba­ngun budaya belajar. Jika pada masa ini anak sudah memiliki budaya belajar yang tinggi, anak akan mudah mempelajari kecakapan belajar (learning skills) pada pe­riode berikutnya, yakni orientation stage, termasuk membangun orientasi hidup maupun ori­entasi akademiknya.

Jadi, yang perlu kita bangun pada masa awal perkembangan anak di sekolah adalah budaya belajar (learning culture). Bukan sekedar kebiasaan belajar (learning habit) dimana anak belajar karena sekolah memang menciptakan lingkungan akademik yang menuntut anak belajar, termasuk di dalamnya memberikan tugas-tugas. Setingkat lebih baik adalah munculnya ke­biasaan belajar karena lingkungan akademik yang merangsang gairah anak belajar. Anak bersemangat di sekolah sehingga kegiatan belajar terasa menyenangkan.

Apakah sebenarnya semangat itu? Keterlibatan emosi saat melakukan suatu kegi­atan sehingga kita merasakan situasi yang mengalir. Keadaan ini bisa terjadi karena hati kita yang gembira, peristiwa sebelumnya yang meluapkan perasaan positif, suasana yang menye­nangkan, guru-guru yang mengajar dengan antusiasme yang menyala-nyala, rancangan ling­kungan fisik sekolah yang menggugah, dan berbagai aspek lain yang mempengaruhi emosi saat belajar. Semakin tinggi keterlibatan emosi saat belajar, semakin efektif otak kita bekerja. Belajar seharian penuh, tetapi anak merasakannya seperti bermain. Asyik dan menyenang­kan.

Sekolah yang menerapkan model belajar sehari penuh (full day), harus memperha­tikan ini. Sekolah harus merancang kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, antusias dan positif agar anak memiliki semangat menyala-nyala saat belajar. Jika tidak, anak bisa meng­alami stress karena beban belajar yang melampaui “ambang kesanggupan mental”. Stress yang berlangsung secara terus-menerus bukan saja melemahkan kemampuan anak. Lebih dari itu, stress berkelanjutan merusak mental dan kepribadian.

Nah.

‘Alaa kulli hal, ada hal lain yang perlu kita perhatikan. Suasana belajar yang menye­nangkan, guru-guru yang mengajar dengan penuh antusiasme dan rangsangan fisik sekolah yang menggugah memang mempengaruhi emosi anak. Mereka belajar dengan penuh sema­ngat. Tetapi semangat yang meluap-luap hanyalah bekal awal. Perlu ada upaya terencana membangun motivasi anak –tidak terkecuali guru—sehingga melahirkan budaya belajar yang kuat.

Istilah motivasi sering jumbuh dengan semangat. Saya sendiri kadang mengguna­kan dua istilah tersebut secara tidak tepat. Jika semangat adalah keterlibatan emosi saat me­lakukan aktivitas, maka motivasi adalah alasan yang menggerakkan seseorang untuk bertin­dak. Semakin kuat motivasi seseorang, semakin menyala semangatnya. Artinya, motivasi me­rupakan salah satu faktor pemacu semangat anak. Semakin kuat motivasi, semakin menyala-nyala semangat dalam diri anak.

Budaya belajar (learning culture) sangat dipengaruhi oleh kekuatan motivasi. Jika a­nak memiliki alasan yang kuat untuk bertindak, dan alasan itu mengakar dalam dirinya, maka ia akan memiliki energi untuk terus belajar. Semakin kuat ia membentuk budaya belajar da­lam dirinya, semakin tangguh semangatnya menggali ilmu meskipun lingkungan sekeliling tak sebaik dulu. Ini berarti, kuatnya budaya belajar menjamin berlangsungnya kebiasaan be­lajar (learning habit) hingga jenjang pendidikan berikutnya, meskipun suasana belajar di jen­jang tersebut tak sebaiknya jenjang sebelumnya.

Inilah yang perlu kita sadari ketika ingin mengembangkan budaya belajar. Lingkung­an yang mendukung memang sangat perlu. Guru-guru yang ramah, hangat dan bersahabat juga tak dapat ditawar-tawar. Begitu pula lingkungan fisik sekolah yang merangsang minat belajar, betapa pun sederhananya, sangat diperlukan.

Tetapi…

Tanpa membangun motivasi intrinsik yang kuat, anak-anak itu bisa kehilangan gai­rah belajarnya –bahkan perilaku positifnya—begitu mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketika masih berada di jenjang sekolah dasar, semangat belajarnya sangat tinggi dan prestasi akademiknya menakjubkan. Begitu memasuki jenjang pendidikan berikut­nya, minat belajar ambruk dan perilakunya kurang terarah karena –misalnya—anak kecewa dengan sekolah barunya.


Pada kasus seperti ini, kita bisa menyalahkan jenjang pendidikan berikutnya. Tetapi sekolah sebelumnya, yakni SD, tetap ikut bertanggung-jawab atas kegagalannya membangun motivasi siswa. Keadaan ini bisa terjadi, antara lain karena pihak SD tidak bisa membedakan –atau sengaja tidak membedakan—antara kebiasaan belajar dan budaya belajar. Mirip sekali wujudnya, lain sekali hakekatnya.

Apa yang diperlukan untuk membangun motivasi intrinsik anak? Banyak hal. Yang sangat pokok adalah menanamkan keimanan yang aktif. Maksud saya, sekolah mengajarkan ‘aqidah kepada anak bukan hanya sebagai pengetahuan kognitif. Lebih dari itu, sebagaimana sifat ayat-ayat yang pertama diturunkan –secara umum ayat-ayat Makkiyah—menggerakkan mereka untuk bertindak karena Allah dan untuk Allah Yang Menciptakan. Sekolah mengge­rakkan jiwa anak-anak untuk meneguhkan diri bahwa shalatnya, ‘ibadahnya, hidupnya dan matinya hanya karena dan untuk Allah ‘Azza wa Jalla semata.

Artinya, ‘aqidah yang kuat menjadi daya penggerak (driving force) bagi anak untuk bertindak dan menentukan arah hidup.

Agar guru mampu menanamkan keimanan yang aktif dengan ‘aqidah shahihah, tak dapat ditawar-tawar lagi ‘aqidah mereka juga harus kuat. Sedemikian kuatnya sehingga keti­ka berbicara, yang berkelebat dalam benaknya bukan sekedar teknik berbicara, tetapi sudah menyatu dalam dirinya kata-kata bertenaga yang menggelorakan motivasi anak-anak dan membakar semangat mereka untuk melakukan yang terbaik. Kata-kata ini mengalir setiap saat karena memang sudah menyatu dalam diri guru.

Di luar itu, secara terencana sekolah dapat mengadakan kegiatan yang secara khu­sus dimaksudkan untuk membangun motivasi anak, baik yang bersifat harian, mingguan, bu­lanan, tahunan atau berdasar rencana kegiatan insidentil. Motivasi harian misalnya diwujud­kan dalam bentuk kegiatan apel motivasi setiap pagi.

Selebihnya, guru perlu memberi tantangan yang cukup agar motivasi tersebut ter­tanam lebih kuat. Tanpa tantangan, anak tidak belajar hidup dalam “dunia nyata”. Apalagi jika mereka hanya kita besarkan dengan fasilitas, tanpa tantangan akan membuat mereka se­perti ayam sayur. Bukan ayam kampung yang tak jatuh oleh panas dan tak tersungkur oleh hujan.

Artinya, harus ada keseimbangan antara fasilitas dan tantangan. Awalnya tantang­an sederhana yang bersifat fisik, lalu secara berangsur kita hadapkan pada tantangan yang lebih memeras pikiran dan tenaga. Pada akhirnya, kita tumbuhkan pada diri mereka kepekaan untuk membaca tantangan bagi keyakinan dan ummat ini.

Wallahu a’lam bishawab.
Read More...

Mengasuh dan Mengajarkan Anak dengan Positive Parenting

Semua orang tua pasti ingin anak-anaknya tumbuh dengan baik. Cakap, pintar, cerdas, percaya diri, mudah bergaul, kreatif dan segudang nilai-nilai positif lainnya. Tetapi, mewujudkan keinginan mulia seperti poin-poin tersebut gampang-gampang susah. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang gagal mengawal masa keemasan buah hatinya, sehingga pertumbuhan mereka kurang baik. Tidak percaya diri, sulit bergaul, malah cenderung bersifat destruktif.

Kunci pentingnya memang terletak pada keluarga. Paling tidak, begitulah menurut Dornan dan Maxwell. Menurutnya kebiasaan berpikir positif, lingkungan positif, afirmasi positif merupakan faktor penting dalam membangun sikap positif (Dornan dan Maxwell, 1996, Strategi Menuju Sukses. Georgia: Network Twenty One, 1998).

Pakar lain, Berk (1993: 25-28) menyatakan bahwa individu berkembang dan dibentuk lingkungan, diawali pemikiran dan kerja dengan diri sendiri (microsystem), selanjutnya lingkungan keluarga, teman sepermainan, tetangga dekat (mesosystem). Berikutnya lagi meluas ke keluarga besarnya, tetangga jauh (exosystem). Dan yang terakhir adalah nilai, hukum, kebiasaan (macrosystem).

Sekali lagi, kuncinya terletak pada keluarga. Keluarga bisa menjadi penentu paling besar bagi munculnya nilai-nilai positif pada anak. Nilai-nilai yang mereka anut memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, berkenaan dengan tabiat dan budi pekerti. Ini juga yang menentukan bagaimana bentuk kontribusi seseorang terhadap dirinya, keluarganya, lingkungannya, terhadap bangsa bahkan dunia . Bila seseorang berwatak positif, maka energi positif pulalah yang disalurkan ke lingkungan sekitarnya, demikian pula sebaliknya. Karena itu, di kalangan pakar, pemikir maupun konsultan tentang keluarga, dikenal istilah Positive Parenting. Secara harfiah, istilah tersebut bermakna: menjalankan tugas kita sebagai orang tua, baik mengasuh, membesarkan maupun mendidik anak-anak secara positif.

Kini, sudah banyak sekali penulis yang mengkonsentrasikan diri pada tema-tema keluarga. Di Indonesia, penulis yang cukup produktif mengulas masalah-masalah seputar anak dan keluarga adalah Mohammad Fauzil Adhim, sarjana psikologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, yang sejak muda memang aktif menyebarkan ide-ide dan buah pemikirannya. Selain buku berjudul “Positive Parenting”, ia juga telah menulis buku-buku laris lainnya dengan seperti “Membuat Anak Gila Membaca” (penerbit Al-Bayan, 2004). Saat menyelesaikan buku Positive Parenting ia sudah dikaruniai empat orang anak, dan dia mempunyai obsesi yang besar: ia ingin anak-anaknya menjadi generasi pilihan yang cemerlang hidupnya, tajam pikirannya, jernih hatinya, kukuh jiwanya, dan kuat imannya. Cara mencapai obsesi itulahyang banyak ia paparkan di bukunya yang berjudul Positive Parenting.

Positive Parenting
Fauzil Adhim memaknai positive parenting sebagai upaya menjalankan tugas ke-orangtua-an (parenting), yakni mengasuh, membesarkan, dan mendidik mereka agar bukan saja tidak mematikan segala kebaikan mereka. Lebih dari itu, kita malah harus bisa merangsang inisiatif-inisiatif mereka, mendorong semangat mereka, menunjukkan penerimaan yang tulus dan memberi perhatian yang hangat atas setiap kebaikan yang mereka lakukan. Kita perlu mengembangkan inisiatif positif dan melakukan pendekatan yang positif.

Enam Poin Penting
Secara sederhana, positive parenting menurut Fauzil Adhim meliputi beberapa bagian. Pertama, konsep dasar yang melandasi. Kedua, sikap dasar yang perlu kita miliki dalam menerapkan positive parenting. Ketiga, prinsip-prinsip penting menjadi orang tua yang positif. Dan yang keempat, strategi mengasuh anak secara positif agar membangkitkan potensi-potensi positif mereka; kecerdasan intelektual mereka, emosi mereka dan juga dorongan moralistik-idealistik mereka yang bersumber pada bercahayanya kekuatan ruhiyah mereka.

Ulasannya sangat sederhana dan mudah dipahami. Sebagai penulis, ia banyak menyelipkan hasil pengamatannya terhadap lingkungan, maupun proses dan dampak yang terjadi pada anak-anaknya sendiri. Berikut ini beberapa poin-poin menarik positive parenting yang dapat menjadi pertimbangan kita:

1. Persepsi orang tua terhadap anak. Yang paling awal musti diluruskan tiap orang tua adalah persepsi mereka tentang anak-anak mereka. Bahwa anak-anak kita akan hidup pada masa yang akan datang. Merekalah generasi penerus, sehingga perlu bekal yang kuat, modal yang banyak, bimbingan yang tepat agar mereka bisa menjadi pribadi-pribadi yang berguna bagi lingkungan, masyarakat, negara, bahkan dunianya. Secara khusus, orientasi masa depan yang disampaikan Fauzil Adhim, tidak hanya sampai urusan dunia saja. Melainkan juga sampai ke urusan akhirat. Maksudnya, orang tua juga harus memikirkan dan membimbing pemenuhan kebutuhan religi anak-anak mereka.

2. Bangkitkan semangat. Setiap orang tua harus selalu menjaga agar anak-anak mereka tidak menjadi anak yang pesimis. Caranya, bangkitkanlah semangat mereka setiap saat. Dengan kata lain, orang tua tidak boleh hanya menjamin tersedianya asupan untuk fisiknya seperti makanan, buah-buahan, serta minuman bergizi. Yang harus orang tua berikan juga adalah asupan bagi jiwanya. Berikan mereka inspirasi-inspirasi melalui cerita-cerita berbobot, yang mengisi kehausan jiwa mereka succes story tokoh-tokoh yang penuh semangat, misalnya.

3. Biasakan membaca. Jika perlu, tumbuhkan kebutuhan terhadap bacaan seolah-olah mereka memandang buku layaknya sebuah makanan lezat. Dengan begitu, mereka akan sering menyerap pengetahuan yang terkandung dalam bahan-bahan bacaan tersebut. Anak-anak yang sedari kecil terbiasa membaca akan menyerap, menyaring, mengolah, dan memaknai informasi. Semakin sering mereka membaca buku-buku yang bergizi, teratur, dan baik penuturannya, kemampuan berfikir mereka akan lebih matang dan tertata. Mereka memiliki kerangka berpikir yang kukuh dan rapi. Dasar-dasar kecakapan dan kematangan emosi dipelajari oleh anak melalui buku-buku yang mereka cerna. Sehingga ketika anak menghadapi tantangan, ia mampu mengelola emosinya dengan menggunakan bahan-bahan yang telah tersedia di otaknya. Mengutip pendapat Paul C. Burns, Betty D. Roe & Elinor P Ross dalam buku Teaching Reading in Today’s Elementary Schools. Ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca, yaitu sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi. Semuanya berjalan berbarengan saat kita membaca.

4. Waktu yang berkualitas bersama anak-anak. Sesibuk apapun kita sebagai orang tua, anak-anak memiliki hak untuk mendapat perhatian. Alokasikan waktu-waktu kita agar tetap bisa bersama anak-anak. Dari kedekatan itu seorang anak dapat merasakan kehangatan, perhatian dan kasih sayang dari orang tua mereka.

5. Hati-hati terhadap televisi. Banyak pengamat yang memandang negatif program-program televisi. Karena itu, jangan bebaskan anak-anak sesuka hati di depan televisi. Bantulah memilihkan program-program yang baik. Sesekali, pantaulah muatan acara yang ditayangkan televisi, jangan ragu untuk melarang anak-anak jika muatannya terlalu dewasa, kasar, mengajarkan kemalasan dan nilai-nilai negatif lainnya.

6. Gunakan kalimat-kalimat positif. Usahakan mencari kata-kata yang bernuansa positif, ketimbang negatif. Selain anak-anak menjadi terbiasa memandang sesuatu dari sisi positif, kalimat-kalimat positif juga terbukti lebih membangkitkan semangat, mengandung optimisme dan percaya diri.
Read More...

50 Tahun Mendatang Anak Kita

-M. Fauzil Adhim

Mungkin kita sudah mati dan jasad kita dikubur entah dimana, atau sedang tua renta sehingga harus berpegangan tongkat untuk berjalan; atau sedang menjemput syahid di jalan Allah di hari yang sama dengan jam saat kita berbincang di tempat ini; atau kita sedang menunggu kematian datang dengan kebaikan yang besar dan bukan keburukan. Allahumma Amin……….

50 Tahun Yang Akan Datang…

Anak-anak kita mungkin sudah tersebar di seluruh dunia. Saat itu, mungkin ada yang sedang menggugah inspirasi umat Islam seluruh dunia, berbicara dari Mesir hingga Amerika, dari Makkah Al Mukarramah hingga Barcelona. Ia menggerakan hati dan melakukan proyek-proyek kebaikan, sehingga kota-kota yang pada zaman keemasan Islam yang terang benderang oleh cahaya-Nya, dari Gibraltar hingga Madrid, dari Istambul hingga Shenzhen, kembali dipenuhi gemuruh takbir saat pengujung malam datang. Sementara siangnya mereka seperti singa kelaparan yang bekerja keras menggenggam dunia. Mereka membasahi tubuhnya dengan keringat karena kerasnya mereka bekerja meski segala fasilitas telah mereka dapat, sementara di malam hari mereka membasahi wajah dan hatinya dengan air mata karena besarnya rasa takut kepada Allah Ta`ala. Rasa takut yang bersumber dari cinta dan taat kepada-Nya.

Ya, mereka bekerja keras meski harta sudah di tangan. Mereka gigih merebut dunia bukan karena gila harta dan takut mati (hubbud-dunya wa karahiyatul-maut), melainkan karena mereka ingin menjadikan setiap detik kehidupannya untuk menolong agama Allah `Azza wa Jalla dengan mengambil fardhu kifayah yang belum banyak tertangani. Mereka gigih bekerja karena mengharap setiap tetes keringatnya dapat menjadi pembuka jalan ke surga.

Kelak (izinkan saya bermimpi) anak-anak kita bertebaran di muka bumi. Mereka berjalan di muka bumi meninggikan kalimat Allah, menyeru kebenaran dengan cara yang baik (amar ma`ruf), saling mengingatkan untuk menjauh dari kemungkaran dan mengingat Allah ta`ala dengan benar. Tangan mereka mengendalikan kehidupan, tetapi hati mereka merindukan kematian. Bukan karena jenuh menghadapi hidup dan berputus asa terhadap dunia, melainkan karena kuatnya keinginan untuk pulang ke kampung akhirat dan mengharap pertemuan dengan Allah dan Rasul-Nya.

Mereka inilah anak-anak yang hidup jiwanya. Bukan cuma sekedar cerdas otaknya. Mereka inilah anak-anak yang kuat imannya, kuat ibadahnya, kuat ilmunya, kuat himmahnya, kuat ikhtiarnya, kuat pula sujudnya. Dan itu semua tak akan pernah terwujud jika kita tidak mempersiapkannya hari ini!

50 Tahun Yang Akan Datang…

Di negeri ini…, kita mungkin menemui pusara bapak-bapak yang hari ini sedang mewarnai anak-anak kita. Mereka terbujur tanpa nisan tanpa prasasti, sementara hidangan di surga telah menanti. Atau sebaliknya, beribu-ribu monumen berdiri untk mengenangnya, sementara tak ada lagi kebaikan yang diharapkan. Mereka menjadi berhala yang dikenang dengan perayaan, tetapi tak ada doa yang membasahi lisan anak-anaknya. Na`udzubillahi min dzalik.

Betapa banyak pelajaran yang betabur di sekeliling kita; dari orang yang masih hidup atau mereka yang sudah tiada. Tetapi betapa sedikit yang kita renungkan. Kisah tentang K.H Ahmad Dahlan yang mengulang-ulang pembahasan tentang al-ma`un hingga menimbulkan pertanyaan dari murid-muridnya, masih kerap kita dengar. Jejak-jejak kebaikan berupa rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah-sekolah juga masih bertebaran. Tetapi, jejak-jejak ruhiyah dan idealisme yang membuat K.H Ahmad Dahlan bergerak menata akidah umat ini, rasanya semakin lama semakin sulit kita lacak.

Tulisan Hadtratusy-Syaikh Hasyim Asy`ari, sahabat dekat K.H Ahmad Dahlan, yang mendirikan Nahdlatul Ulama, masih bisa kita lacak, meski semakin langka. Tetapi, jejak-jejak ruhiyah dan idealisme sulit kita temukan. Apa yang dulu diyakini haram oleh Hadratusy-syaikh, hari ini justru dianggap wajib oleh mereka yang merasa sebagai pengikutnya.

Apa artinya? iman kita wariskan, kecuali hari ini kita didik mereka dengan sungguh-sungguh untuk mencintai Tuhannnya. Keyakinan, cara pandang, idealisme juga tidak bisa diwariskan ke dada mereka kalau hari ini kita hanya sibuk memikirkan dunianya. Bukan akhiratnya. Atau kita persiapakan mereka menuju akhirat, tetapi kita hanya bekali mereka dengan kekuatan, keterampilan, dan ilmu untuk memenangi hidup di dunia dan menggenggam dengan tangan mereka. Betapa banyak anak-anak yang dulu rajin puasa Senin-Kamis, tetapi ketika harus bertarung welawan kesulitan hidup, imannya yang berubah Senin-Kamis. Kadang ada, kadang nyaris tak tersisa. Na`udzubillah min dzalik.

Teringatlah saya dengan perkataan Nabi Ya`qub saat menghadapi sakaratul maut. Allah Ta`ala mengabadikannya dalam Surat Al Baqarah ayat 133:

Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata pada anak-anaknya: ”Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”, Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma`il, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya“ (QS. Al –Baqarah: 133).

Ya, inilah pertanyaan Nabi Ya`qub `Alaihi-salam, Maa ta`buduuna min ba`di? Apakah yang akan kalian sembah sepeninggalku? Bukan, “Maa ta`kuluuna min ba`di? apa yang kalian makan sesudah aku tiada?”

Lalu, seberapa gelisah kita hari ini? Apakah kita sibuk memperbanyak tabungan agar kelak mereka tidak kebingungan cari makan sesudah kita tiada? apakah kita bekali mereka dengan tujuan hidup, visi besar, semangat yang menyala-nyala, budaya belajar yang tinggi, iman yang kuat dan kesediaan berbagi karena Allah. Kita hidupkan jiwanya dengan bacaan yang bergizi, nasihat yang menyejukan hati, dorongan yang melecut semangat, tantangan yang menggugah, dan dukungan pada saat gagal sehingga ia merasa kita perhatikan. Kita nyalakan tujuan hidupnya dengan mengajarkan mereka untuk mengenal Tuhannnya. Dan, kita bangun visi besar mereka dengan menghadirkan kisah orang-orang besar sepanjang sejarah; orang-orang saleh yang telah memberi warna bagi kehidupan ini, sehingga mereka menemukan figur untuk dipelajari, dikagumi, dan dijadikan contoh.

50 tahun mendatang anak kita, hari inilah menentukannya. Semoga warisan terbaik kita untuk mereka adalah pendidikan yang kita berikan dengan berbekal ilmu dan kesungguhan. Kita antarkan pesan-pesan itu dengan cara yang terbaik. Sementara doa-doa yang kita panjatkan dengan tangis dan air mata, semoga mengenapkan yang kurang, meluruskan yang keliru, menyempurnakan yang baik dan diatas semuanya, kepada siapa lagi kita meminta selain kepada-Nya?

Ya Allah…, ampunilah aku yang lebih sering lalai daripada ingat, yang lebih sering zhalim dari pada adil, yang sering bakhil daripada berbagi karena mengaharap ridha-Mu, yang lebih banyak jahil daripada mengilmu setiap tindakan, yang lebih banyak berbuat dosa daripada melakukan kebajikan…

Ya Allah Yang Maha Menggenggam langit dan bumi… Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikanlah ia sebagai penutup keburukan dan pembuka kebaikan. Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikanlah ia sebagai jalan perjumpaan dengan-Mu dan bukan permulaan musibah yang tak ada ujungnya. Jadikanlah ia sebagai penggenap kebaikan agar anak-anak kami mampu berbuat yang lebih baik untuk agamamu.

Ya Allah, jangan jadikan kami penghalang kebaikan dan kemuliaan anak-anak kami, hanya karena kami tak mengerti mereka. Amin…
Read More...

Belajar Dari Masa Kecil

M. Fauzil Adhim

Malam itu, Fathurrahmi datang. Sahabat saya asal Cadek-Aceh ini bertutur mengenangkan masa-masa kecil ketika meunasah (mushala) menjadi tempat terindah bagi anak laki-laki pada masa itu untuk menghabiskan waktu malam. Bercengkrama bersama-sama sambil meraup ilmu yang seakan selalu mengalir dari para Tengku. Ba`da maghrib adalah waktu-waktu untuk belajar mengakrabi Al-Qur`an dan pengetahuan fiqih dasar.

Saya merasakan ada kesedihan yang mendalam disela-sela ucapannya. Bukan untuk meratapi permukiman yang telah rata dengan bumi karena disapu tsunami. Tetapi, rasa kehilangan yang sangat besar karena tradisi yang sangat baik itu sekarang seakan telah ditelan bumi.

Cerita yang dituturkan oleh Fathur ini mengingatkan pada masa kecil yang indah, ketika hampir semua orang di kampung menjadi penjaga bagi setiap anak. Masjid dan mushala (dikampung saya orang menyebutnya langgar) adalah tempat anak laki-laki yang sudah beranjak besar berkumpul, belajar, dan tidur. Anak-anak yang sudah menjelang `aqil-baligh itu mengisi waktunya dengan menghafal nazham yang berisi petuah-petuah berharga atau rumus-rumus ilmu yang digubah dalam bentuk sya`ir. Matan Alfiyyah yang berisi prinsip-prinsip bahasa Arab, adalah kumpulan syair bersajak. Nazhaman adalah istilah untuk kegiatan melantunkan nazham berharga ini.

Menjelang maghrib, kira-kira satu atau setengah jam sebelum adzan berkumandang, anak-anak biasanya sudah bersiap dengan pakaian bersih, siap untuk berangkat kerumah guru ngaji yang dipilih. Sarung sudah dipakai dengan rapi, dan kopiah hitam dikenakan untuk menandai sudah siap untuk mengaji. Anak-anak itu biasanya sudah mempunyai guru ngaji sendiri-sendiri; di mushala-mushala atau datang kerumah-rumah. Anak-anak yang masih belum berumur tujuh tahun (belum mumayyis) biasanya mendatangi pelajaran mengaji kerumah-rumah. Mereka belajar bersama anak-anak perempuan. Jika anak sudah seminggu belajar mengaji di satu tempat yang dipilih anak, orang tua biasanya mendatangi guru ngaji tersebut dengan kepasrahan yang tulus untuk menitipkan secara resmi agar anaknya dididik dan didoakan disetiap shalatnya.

Para guru ngaji itu ibaratnya orang tua kedua atau bahkan lebih. Nasehat mereka adalah nasehat orang tua. Kalau para guru itu menghukum, orang tua umumnya selalu membenarkan tindakan tersebut. Kalau anak tampak tidak terima dengan tindakan guru terhadapnya, orang tua biasanya menjadi penengah yang memahamkan anak, sehingga tetap muncul kecintaan pada guru. Kisah Nabi Isa ‘alaihis-salam ketika berguru kepada Nabi Khidhir ‘alaihis-salam biasanya membuat anak-anak terhibur dan bersabar, sembari berharap mudah-mudahan ilmu kami manfaat.

Jauh sekali bedanya masa itu. Orang tua tidak perlu gelisah kalau anak laki-lakinya tidak tidur di rumah, karena tempat anak laki-laki yang menjelang `aqil baligh hingga menjelang mereka menikah adalah di masjid atau langgar. Kalaupun mereka tidur di rumah teman, mereka juga tidak khawatir karena yakin orangtua temannya anak akan membangunkan pada waktu subuh dan mengingatkan jika ada akhlak yang tidak baik. Rasanya setiap orang menjadi pendidik bagi setiap anak. Setidaknya mereka turut menjaga anak orang lain.

Saya ingat pada waktu kecil saya biasa datang ke rumah-rumah tetangga untuk melihat televisi saat siaran berita. Saya bawa sebuat blocknote kecil untuk mencatat isi berita, dan segera beranjak pergi sesudah siaran berita selesai. Sekali waktu ketika saya terbawa untuk ikut nonton acara berikutnya yang kebetulan tidak bagus, pemilik televisi kerapkali mengingatkan saya agar bermain di luar. Tidak nonton televisi.

Tetapi, itu semua rasanya mimpi saat ini. Ketika SCTV mulai masuk kekampung kami, para orangtua tidak lagi merasa aman jika anak laki-lakinya yang sudah menjelang usia 2 tahun sekalipun, tidak tidur di rumah. Ibu-ibu yang dulu mengajari kami mengaji, sekarang sudah sibuk dengan televisi. Ibu-ibu yang dulu sabar bercerita tentang Nabi Muhammad Saw, para sahabat hingga teladan dari para kiai,sekarang lebih akrab dengan artis dan televisi. Bapak-bapak yang dulu mengajari kami ta`lim mua`alaim agar ilmu yang kami dapat benar-benar bermanfaat, sekarang sibuk menghafalkan jadwal acara televisi. Dan, Manchester United lebih dekat dengan kehidupan daripada Bidayatul-Mujtahid.

Tradisi Keilmuan yang hilang

Pada masa kecil, sebelum SCTV masuk kampung kami, anak-anak usia 7-8 tahun mulai mengaji fiqih dasar seusai belajar Al-Qur’an. Kami biasanya belajar Safinatun-Najah yang berisi semacam pengantar fiqih tentang berbagai cabang masalah. Kalau anak sudah tamat belajar Safinatun-Najah, akan berlanjut ke kitab fiqih berikutnya yang lebih kompleks. Tetapi, pembahasannya selalu diawali dengan masalah thaharah; masalah kecil yang sangat menentukan. Pada hari-hari tertentu, kitab yang dipelajari beda. Biasanya berkait dengan akidah dan akhlak.

Hari Kamis malam Jumat umumnya merupakan hari libur. Anak-anak yang masih berusia 6-8 tahun atau 9 tahun biasanya libur penuh. Sedangkan anak-anak diatas usia itu, biasanya mempunyai kegiatan. Sebagaian langgar menggunakan waktu libur ini untuk membaca Barzanji berikut aturan-aturannnya yang saya tidak mengerti. Tetapi, sebagian lainya tidak melakukan karena memang tidak menerima tradisi ini.

Kakek saya yang merupakan murid langsung dari Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy`ari termasuk yang tidak menerima barzanji. Dia membolehkan membaca barzanji sebagai karya syair, tetapi tidak mengizinkan untuk menjadikannya sebagai acara, sehingga tampak sebagai ritual. Sebagian besar langgar di kampung saya termasuk yang tidak menerima tradisi barzanji maupun pembacaan manaqib Syaikh `Abdul Qadir al-Jailani. Apa lagi kalau disertai ingkung (ayam panggang utuh dapat perlakuan tertentu), keras sekali larangan kakek saya. Langgar di kampung saya, ketika itu, umumnya mengikuti pendapat yang melarang ritual barzanji.

Tetapi, tulisan ini tidak saya maksudkan mendiskusikan boleh tidaknya ritual barzanji. Tulisan ini saya hadirkan untuk belajar mengambil pelajaran dari pengalaman masa kecil. Pertemuan malam itu dengan Fathurrahmi membuat saya tersentak dan menyadari betapa sedikit yang sudah saya berikan kepada anak-anak. Dahulu, anak-anak sudah memahami fiqih dasar, sebelum mereka berusia 10 tahun. Sehingga ketika mereka tidak mengerjakan shalat orang tua memiliki alasan untuk memukul. Meski tidak menyakitkan, tetapi bukankan untuk memukul, orang tua harus mengingat qubhunal - `iqaab bilaa bayaan? adalah buruk menghukum tanpa memberikan penjelasan.

Mengenangkan masa kecil, ada banyak hal yang mengusik jiwa. Ketika tardisi keilmuan melekat kuat dimasyarakat, para ibu tidak perlu kebingungan untuk menjelaskan mengapa tidak shalat. Sebab anak-anak sudah belajar dilanggar-langgar tentang haid, kaifiyah mandi junub, berwudhu, membedakan bersih tak berarti selalu suci, serta bebrbagai perkara penting lainnya. Hari ini, tardisi keilmuan itu telah berganti dengan tradisi nonton TV. Uang yang dulu ditabung sebagai bekal menuntut ilmu , sekarang beralih fungsi. Orang sibuk menabung untuk membeli mimpi – mimpi yang tak terbeli ; mimpi – mimpi yang mereka jejalkan setiap hari kepada diri mereka maupun anak –anak.

Saya pernah merasa sangat terpukul ketika suatu hari ada istri seorang ustadz tergesa-gesa pulang begitu pengajian diakhiri. Bukan mengingat ada tetangga yang kelaparan, tetapi karena tayangan telenovela yang disukai sudah dimulai. Saya ingat sekali yang diburu oleh ibu kita ini: Casandra. Saya tidak tahu, sekarang masih ada atau tidak tayangan tersebut. Saya berharap sudah tidak ada lagi. Tetapi kalaupun sudah tidak ada, apakah acara-acara di televisi sekarang sudah lebih baik?

Mengenangkan masa kecil, banyak pelajaran yang menggugah saya untuk merenungkan sejenak. Inilah masa ketika orang bersungguh-sungguh untuk mencari ilmu, sekurangnya yang menjadi bekal dasar kehidupan mereka. Ulama adalah orang yang sering menangis; menangisi dirinya sendiri karena tak mampu mengingatkan orang lain, menangisi kekurangan dalam berbuat baik dan menangisi manusia yang belum menyambut hidayah. Mereka dipanggil kyai karena masyarakat memberikan panggilan itu. Bukan karena mereka memberi julukan untuk mereka sendiri seraya membuat kartu nama indah yang bertuliskan Kyai Haji. Mereka segera menarik tangannya begitu ada yang bergerak menciumnya. Bukan memerah mukanya karena santri tak menggamit tangannya untuk dicium.

Pada masa itu, saya mendapati NU dan Muhammadiyah belajar dari sumber yang sama. Di kampung saya, kebetulan NU dan Muhammadiyah perintisnya adalah keluarga. Hari ini, ketika tradisi keilmuan itu berganti dengan tradisi nonton televisi, Muhammadiyah kehilangan ulama. Sementara Ulama NU banyak yang kehilangan integritas. Hari ini, saya mendapati orang-orang yang tidak mempunyai kelayakan sebagai ulama, telah menisbatkan diri sebagai ulama. Pada saat yang sama, anak-anak kita semakin jauh dari agama. Masa-masa emas mereka belajar agama terlewatkan begitu saja secara teratur.

"Moh Fauzil Adhim, Mizania 2006"
Read More...

Mengenalkan Allah kepada Anak

M. Fauzil Adhim

Rasulullah saw. pernah mengingatkan, untuk mengawali bayi-bayi kita dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.” Kalimat suci inilah yang kelak akan membekas pada otak dan hati mereka

pas-foto-fauzilKalau anak-anak itu kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak itu tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan –meskipun barangkali ada yang demikian—tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak. Kerapkali, anak-anak lebih sering mendengar asma Allah dalam suasana menakutkan.

Mereka mengenal Allah dengan sifat-sifat jalaliyah-Nya, sementara sifat jamaliyah-Nya hampir-hampir tak mereka ketahui kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka barbie. Maka tak salah kalau kemudian mereka menyebut nama Allah hanya di saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian datang menghampiri orang-orang tersayang.

Astaghfirullahal ‘adziim…

Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kesalahan, atau saat kita membelalakkan mata untuk mengeluarkan ancaman. Ketika mereka berbuat “keliru” –meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita—asma Allah terdengar keras di telinga mereka oleh teriakan kita, “Ayo…. Nggak boleh! Dosa!!! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa.”

Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka, kita berteriak, “E… nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba…? Muba…? Mubazir!!! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho.”

Setiap saat nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diperintahkan untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara “mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari”. Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan. Sama seperti penggunaan kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan di saat membutuhkan pertolongan. Mereka “menjauh” karena telanjur memiliki kesan negatif yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan rasul-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.

Rasanya, telah cukup pelajaran yang terbentang di hadapan mata kita. Anak-anak yang dulu paling keras mengumandangkan adzan, sekarang sudah ada yang menjadi penentang perintah Tuhan. Anak-anak yang dulu segera berlari menuju tempat wudhu begitu mendengar suara batuk bapaknya di saat maghrib, sekarang di antara mereka ada yang berlari meninggalkan agama. Mereka mengganti keyakinannya pada agama dengan kepercayaan yang kuat pada pemikiran manusia, karena mereka tak sanggup merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Sebab, semenjak kecil mereka tak biasa menangkap dan merasakan kasih-sayang Allah.

Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan Allah kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apa pun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmalah. Kita ajari mereka menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya?). Sehingga bertentangan apa yang mereka rasakan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.

Bercermin pada perintah Nabi saw. dan urutan turunnya ayat-ayat suci yang awal, ada beberapa hal yang patut kita catat dengan cermat. Seraya memohon hidayah kepada Allah atas diri kita dan anak-anak kita, mari kita periksa catatan berikut ini:

Awali Bayimu dengan Laa Ilaaha IllaLlah

Rasulullah saw. pernah mengingatkan, “Awalilah bayi-bayimu dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.”

Kalimat suci inilah yang perlu kita kenalkan di awal kehidupan bayi-bayi kita, sehingga membekas pada otaknya dan menghidupkan cahaya hatinya. Apa yang didengar bayi di saat-saat awal kehidupannya akan berpengaruh pada perkembangan berikutnya, khususnya terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang mengesankan. Suara ibu yang terdengar berbeda dari suara-suara lain, jelas pengucapannya, terasa seperti mengajarkan (teaching style) atau mengajak berbincang akrab (conversational quality), memberi pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan bayi. Selain menguatkan pesan pada diri anak, cara ibu berbicara seperti itu juga secara nyata meningkatkan IQ balita, khususnya usia 0-2 tahun. Begitu pelajaran yang bisa saya petik dari hasil penelitian Bradley & Caldwell berjudul 174 Children: A Study of the Relationship between Home Environment and Cognitive Development during the First 5 Years.

Apabila anak sudah mulai besar dan dapat menirukan apa yang kita ucapkan, Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah saw. berpesan:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu.Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Jagalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya Allah pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan.”

Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Tak ada penolong kecuali Allah Yang Maha Kuasa; Allah yang senantiasa membalas setiap kebaikan. Tak ada tempat meminta kecuali Allah. Tak ada tempat bergantung kecuali Allah. Dan itu semua menunjukkan kepada anak bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.

Wallahu a’lam bishawab.

Iqra’ Bismirabbikal ladzii Khalaq

Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan oleh-Nya kepada kita adalah al-Khaliq dan al-Karim, sebagaimana firman-Nya, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara. Pertama, memperkenalkan Allah kepada anak melalui sifat-Nya yang pertama kali dikenalkan, yakni al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap wajah kita, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan pada mereka, bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya.

Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Dari sini kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, “Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?”

Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan mereka, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran –bukan hanya pengetahuan—bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.

Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat kedua yang pertama kali diperkenalkan oleh Allah kepada kita, yakni al-Karim. Di dalam sifat ini berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya dan memuliakan mereka yang mulia. Wallahu a’lam bishawab.* (Sumber: Suara Hidayatullah)
Read More...

Belajar Dari Masa Kecil

<< Moh Fauzil Adhim >>

Malam itu, Fathurrahmi datang. Sahabat saya asal Cadek-Aceh ini bertutur mengenangkan masa-masa kecil ketika meunasah (mushala) menjadi tempat terindah bagi anak laki-laki pada masa itu untuk menghabiskan waktu malam. Bercengkrama bersama-sama sambil meraup ilmu yang seakan selalu mengalir dari para Tengku. Ba`da maghrib adalah waktu-waktu untuk belajar mengakrabi Al-Qur`an dan pengetahuan fiqih dasar.

Saya merasakan ada kesedihan yang mendalam disela-sela ucapannya. Bukan untuk meratapi permukiman yang telah rata dengan bumi karena disapu tsunami. Tetapi, rasa kehilangan yang sangat besar karena tradisi yang sangat baik itu sekarang seakan telah ditelan bumi.

Cerita yang dituturkan oleh Fathur ini mengingatkan pada masa kecil yang indah, ketika hampir semua orang di kampung menjadi penjaga bagi setiap anak. Masjid dan mushala (dikampung saya orang menyebutnya langgar) adalah tempat anak laki-laki yang sudah beranjak besar berkumpul, belajar, dan tidur. Anak-anak yang sudah menjelang `aqil-baligh itu mengisi waktunya dengan menghafal nazham yang berisi petuah-petuah berharga atau rumus-rumus ilmu yang digubah dalam bentuk sya`ir. Matan Alfiyyah yang berisi prinsip-prinsip bahasa Arab, adalah kumpulan syair bersajak. Nazhaman adalah istilah untuk kegiatan melantunkan nazham berharga ini.

Menjelang maghrib, kira-kira satu atau setengah jam sebelum adzan berkumandang, anak-anak biasanya sudah bersiap dengan pakaian bersih, siap untuk berangkat kerumah guru ngaji yang dipilih. Sarung sudah dipakai dengan rapi, dan kopiah hitam dikenakan untuk menandai sudah siap untuk mengaji. Anak-anak itu biasanya sudah mempunyai guru ngaji sendiri-sendiri; di mushala-mushala atau datang kerumah-rumah. Anak-anak yang masih belum berumur tujuh tahun (belum mumayyis) biasanya mendatangi pelajaran mengaji kerumah-rumah. Mereka belajar bersama anak-anak perempuan. Jika anak sudah seminggu belajar mengaji di satu tempat yang dipilih anak, orang tua biasanya mendatangi guru ngaji tersebut dengan kepasrahan yang tulus untuk menitipkan secara resmi agar anaknya dididik dan didoakan disetiap shalatnya.

Para guru ngaji itu ibaratnya orang tua kedua atau bahkan lebih. Nasehat mereka adalah nasehat orang tua. Kalau para guru itu menghukum, orang tua umumnya selalu membenarkan tindakan tersebut. Kalau anak tampak tidak terima dengan tindakan guru terhadapnya, orang tua biasanya menjadi penengah yang memahamkan anak, sehingga tetap muncul kecintaan pada guru. Kisah Nabi Isa ‘alaihis-salam ketika berguru kepada Nabi Khidhir ‘alaihis-salam biasanya membuat anak-anak terhibur dan bersabar, sembari berharap mudah-mudahan ilmu kami manfaat.

Jauh sekali bedanya masa itu. Orang tua tidak perlu gelisah kalau anak laki-lakinya tidak tidur di rumah, karena tempat anak laki-laki yang menjelang `aqil baligh hingga menjelang mereka menikah adalah di masjid atau langgar. Kalaupun mereka tidur di rumah teman, mereka juga tidak khawatir karena yakin orangtua temannya anak akan membangunkan pada waktu subuh dan mengingatkan jika ada akhlak yang tidak baik. Rasanya setiap orang menjadi pendidik bagi setiap anak. Setidaknya mereka turut menjaga anak orang lain.

Saya ingat pada waktu kecil saya biasa datang ke rumah-rumah tetangga untuk melihat televisi saat siaran berita. Saya bawa sebuat blocknote kecil untuk mencatat isi berita, dan segera beranjak pergi sesudah siaran berita selesai. Sekali waktu ketika saya terbawa untuk ikut nonton acara berikutnya yang kebetulan tidak bagus, pemilik televisi kerapkali mengingatkan saya agar bermain di luar. Tidak nonton televisi.

Tetapi, itu semua rasanya mimpi saat ini. Ketika SCTV mulai masuk kekampung kami, para orangtua tidak lagi merasa aman jika anak laki-lakinya yang sudah menjelang usia 2 tahun sekalipun, tidak tidur di rumah. Ibu-ibu yang dulu mengajari kami mengaji, sekarang sudah sibuk dengan televisi. Ibu-ibu yang dulu sabar bercerita tentang Nabi Muhammad Saw, para sahabat hingga teladan dari para kiai,sekarang lebih akrab dengan artis dan televisi. Bapak-bapak yang dulu mengajari kami ta`lim mua`alaim agar ilmu yang kami dapat benar-benar bermanfaat, sekarang sibuk menghafalkan jadwal acara televisi. Dan, Manchester United lebih dekat dengan kehidupan daripada Bidayatul-Mujtahid.

Tradisi Keilmuan yang hilang

Pada masa kecil, sebelum SCTV masuk kampung kami, anak-anak usia 7-8 tahun mulai mengaji fiqih dasar seusai belajar Al-Qur’an. Kami biasanya belajar Safinatun-Najah yang berisi semacam pengantar fiqih tentang berbagai cabang masalah. Kalau anak sudah tamat belajar Safinatun-Najah, akan berlanjut ke kitab fiqih berikutnya yang lebih kompleks. Tetapi, pembahasannya selalu diawali dengan masalah thaharah; masalah kecil yang sangat menentukan. Pada hari-hari tertentu, kitab yang dipelajari beda. Biasanya berkait dengan akidah dan akhlak.

Hari Kamis malam Jumat umumnya merupakan hari libur. Anak-anak yang masih berusia 6-8 tahun atau 9 tahun biasanya libur penuh. Sedangkan anak-anak diatas usia itu, biasanya mempunyai kegiatan. Sebagaian langgar menggunakan waktu libur ini untuk membaca Barzanji berikut aturan-aturannnya yang saya tidak mengerti. Tetapi, sebagian lainya tidak melakukan karena memang tidak menerima tradisi ini.

Kakek saya yang merupakan murid langsung dari Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy`ari termasuk yang tidak menerima barzanji. Dia membolehkan membaca barzanji sebagai karya syair, tetapi tidak mengizinkan untuk menjadikannya sebagai acara, sehingga tampak sebagai ritual. Sebagian besar langgar di kampung saya termasuk yang tidak menerima tradisi barzanji maupun pembacaan manaqib Syaikh `Abdul Qadir al-Jailani. Apa lagi kalau disertai ingkung (ayam panggang utuh dapat perlakuan tertentu), keras sekali larangan kakek saya. Langgar di kampung saya, ketika itu, umumnya mengikuti pendapat yang melarang ritual barzanji.

Tetapi, tulisan ini tidak saya maksudkan mendiskusikan boleh tidaknya ritual barzanji. Tulisan ini saya hadirkan untuk belajar mengambil pelajaran dari pengalaman masa kecil. Pertemuan malam itu dengan Fathurrahmi membuat saya tersentak dan menyadari betapa sedikit yang sudah saya berikan kepada anak-anak. Dahulu, anak-anak sudah memahami fiqih dasar, sebelum mereka berusia 10 tahun. Sehingga ketika mereka tidak mengerjakan shalat orang tua memiliki alasan untuk memukul. Meski tidak menyakitkan, tetapi bukankan untuk memukul, orang tua harus mengingat qubhunal - `iqaab bilaa bayaan? adalah buruk menghukum tanpa memberikan penjelasan.

Mengenangkan masa kecil, ada banyak hal yang mengusik jiwa. Ketika tardisi keilmuan melekat kuat dimasyarakat, para ibu tidak perlu kebingungan untuk menjelaskan mengapa tidak shalat. Sebab anak-anak sudah belajar dilanggar-langgar tentang haid, kaifiyah mandi junub, berwudhu, membedakan bersih tak berarti selalu suci, serta bebrbagai perkara penting lainnya. Hari ini, tardisi keilmuan itu telah berganti dengan tradisi nonton TV. Uang yang dulu ditabung sebagai bekal menuntut ilmu , sekarang beralih fungsi. Orang sibuk menabung untuk membeli mimpi – mimpi yang tak terbeli ; mimpi – mimpi yang mereka jejalkan setiap hari kepada diri mereka maupun anak –anak.

Saya pernah merasa sangat terpukul ketika suatu hari ada istri seorang ustadz tergesa-gesa pulang begitu pengajian diakhiri. Bukan mengingat ada tetangga yang kelaparan, tetapi karena tayangan telenovela yang disukai sudah dimulai. Saya ingat sekali yang diburu oleh ibu kita ini: Casandra. Saya tidak tahu, sekarang masih ada atau tidak tayangan tersebut. Saya berharap sudah tidak ada lagi. Tetapi kalaupun sudah tidak ada, apakah acara-acara di televisi sekarang sudah lebih baik?

Mengenangkan masa kecil, banyak pelajaran yang menggugah saya untuk merenungkan sejenak. Inilah masa ketika orang bersungguh-sungguh untuk mencari ilmu, sekurangnya yang menjadi bekal dasar kehidupan mereka. Ulama adalah orang yang sering menangis; menangisi dirinya sendiri karena tak mampu mengingatkan orang lain, menangisi kekurangan dalam berbuat baik dan menangisi manusia yang belum menyambut hidayah. Mereka dipanggil kyai karena masyarakat memberikan panggilan itu. Bukan karena mereka memberi julukan untuk mereka sendiri seraya membuat kartu nama indah yang bertuliskan Kyai Haji. Mereka segera menarik tangannya begitu ada yang bergerak menciumnya. Bukan memerah mukanya karena santri tak menggamit tangannya untuk dicium.

Pada masa itu, saya mendapati NU dan Muhammadiyah belajar dari sumber yang sama. Di kampung saya, kebetulan NU dan Muhammadiyah perintisnya adalah keluarga. Hari ini, ketika tradisi keilmuan itu berganti dengan tradisi nonton televisi, Muhammadiyah kehilangan ulama. Sementara Ulama NU banyak yang kehilangan integritas. Hari ini, saya mendapati orang-orang yang tidak mempunyai kelayakan sebagai ulama, telah menisbatkan diri sebagai ulama. Pada saat yang sama, anak-anak kita semakin jauh dari agama. Masa-masa emas mereka belajar agama terlewatkan begitu saja secara teratur.
Read More...
 
Copyright (c) 2010 SD Integral Luqman Al Hakim Bojonegoro
Jl. Lisman 18 B Bojonegoro Telp (0353) 7705344,888025, Email :sdintegral@yahoo.com