Web Toolbar by Wibiya

Belajar Dari Masa Kecil

Posted on
  • 23 November 2010
  • by
  • SDI LUQMAN AL HAKIM BOJONEGORO
  • in
  • Label:
  • M. Fauzil Adhim

    Malam itu, Fathurrahmi datang. Sahabat saya asal Cadek-Aceh ini bertutur mengenangkan masa-masa kecil ketika meunasah (mushala) menjadi tempat terindah bagi anak laki-laki pada masa itu untuk menghabiskan waktu malam. Bercengkrama bersama-sama sambil meraup ilmu yang seakan selalu mengalir dari para Tengku. Ba`da maghrib adalah waktu-waktu untuk belajar mengakrabi Al-Qur`an dan pengetahuan fiqih dasar.

    Saya merasakan ada kesedihan yang mendalam disela-sela ucapannya. Bukan untuk meratapi permukiman yang telah rata dengan bumi karena disapu tsunami. Tetapi, rasa kehilangan yang sangat besar karena tradisi yang sangat baik itu sekarang seakan telah ditelan bumi.

    Cerita yang dituturkan oleh Fathur ini mengingatkan pada masa kecil yang indah, ketika hampir semua orang di kampung menjadi penjaga bagi setiap anak. Masjid dan mushala (dikampung saya orang menyebutnya langgar) adalah tempat anak laki-laki yang sudah beranjak besar berkumpul, belajar, dan tidur. Anak-anak yang sudah menjelang `aqil-baligh itu mengisi waktunya dengan menghafal nazham yang berisi petuah-petuah berharga atau rumus-rumus ilmu yang digubah dalam bentuk sya`ir. Matan Alfiyyah yang berisi prinsip-prinsip bahasa Arab, adalah kumpulan syair bersajak. Nazhaman adalah istilah untuk kegiatan melantunkan nazham berharga ini.

    Menjelang maghrib, kira-kira satu atau setengah jam sebelum adzan berkumandang, anak-anak biasanya sudah bersiap dengan pakaian bersih, siap untuk berangkat kerumah guru ngaji yang dipilih. Sarung sudah dipakai dengan rapi, dan kopiah hitam dikenakan untuk menandai sudah siap untuk mengaji. Anak-anak itu biasanya sudah mempunyai guru ngaji sendiri-sendiri; di mushala-mushala atau datang kerumah-rumah. Anak-anak yang masih belum berumur tujuh tahun (belum mumayyis) biasanya mendatangi pelajaran mengaji kerumah-rumah. Mereka belajar bersama anak-anak perempuan. Jika anak sudah seminggu belajar mengaji di satu tempat yang dipilih anak, orang tua biasanya mendatangi guru ngaji tersebut dengan kepasrahan yang tulus untuk menitipkan secara resmi agar anaknya dididik dan didoakan disetiap shalatnya.

    Para guru ngaji itu ibaratnya orang tua kedua atau bahkan lebih. Nasehat mereka adalah nasehat orang tua. Kalau para guru itu menghukum, orang tua umumnya selalu membenarkan tindakan tersebut. Kalau anak tampak tidak terima dengan tindakan guru terhadapnya, orang tua biasanya menjadi penengah yang memahamkan anak, sehingga tetap muncul kecintaan pada guru. Kisah Nabi Isa ‘alaihis-salam ketika berguru kepada Nabi Khidhir ‘alaihis-salam biasanya membuat anak-anak terhibur dan bersabar, sembari berharap mudah-mudahan ilmu kami manfaat.

    Jauh sekali bedanya masa itu. Orang tua tidak perlu gelisah kalau anak laki-lakinya tidak tidur di rumah, karena tempat anak laki-laki yang menjelang `aqil baligh hingga menjelang mereka menikah adalah di masjid atau langgar. Kalaupun mereka tidur di rumah teman, mereka juga tidak khawatir karena yakin orangtua temannya anak akan membangunkan pada waktu subuh dan mengingatkan jika ada akhlak yang tidak baik. Rasanya setiap orang menjadi pendidik bagi setiap anak. Setidaknya mereka turut menjaga anak orang lain.

    Saya ingat pada waktu kecil saya biasa datang ke rumah-rumah tetangga untuk melihat televisi saat siaran berita. Saya bawa sebuat blocknote kecil untuk mencatat isi berita, dan segera beranjak pergi sesudah siaran berita selesai. Sekali waktu ketika saya terbawa untuk ikut nonton acara berikutnya yang kebetulan tidak bagus, pemilik televisi kerapkali mengingatkan saya agar bermain di luar. Tidak nonton televisi.

    Tetapi, itu semua rasanya mimpi saat ini. Ketika SCTV mulai masuk kekampung kami, para orangtua tidak lagi merasa aman jika anak laki-lakinya yang sudah menjelang usia 2 tahun sekalipun, tidak tidur di rumah. Ibu-ibu yang dulu mengajari kami mengaji, sekarang sudah sibuk dengan televisi. Ibu-ibu yang dulu sabar bercerita tentang Nabi Muhammad Saw, para sahabat hingga teladan dari para kiai,sekarang lebih akrab dengan artis dan televisi. Bapak-bapak yang dulu mengajari kami ta`lim mua`alaim agar ilmu yang kami dapat benar-benar bermanfaat, sekarang sibuk menghafalkan jadwal acara televisi. Dan, Manchester United lebih dekat dengan kehidupan daripada Bidayatul-Mujtahid.

    Tradisi Keilmuan yang hilang

    Pada masa kecil, sebelum SCTV masuk kampung kami, anak-anak usia 7-8 tahun mulai mengaji fiqih dasar seusai belajar Al-Qur’an. Kami biasanya belajar Safinatun-Najah yang berisi semacam pengantar fiqih tentang berbagai cabang masalah. Kalau anak sudah tamat belajar Safinatun-Najah, akan berlanjut ke kitab fiqih berikutnya yang lebih kompleks. Tetapi, pembahasannya selalu diawali dengan masalah thaharah; masalah kecil yang sangat menentukan. Pada hari-hari tertentu, kitab yang dipelajari beda. Biasanya berkait dengan akidah dan akhlak.

    Hari Kamis malam Jumat umumnya merupakan hari libur. Anak-anak yang masih berusia 6-8 tahun atau 9 tahun biasanya libur penuh. Sedangkan anak-anak diatas usia itu, biasanya mempunyai kegiatan. Sebagaian langgar menggunakan waktu libur ini untuk membaca Barzanji berikut aturan-aturannnya yang saya tidak mengerti. Tetapi, sebagian lainya tidak melakukan karena memang tidak menerima tradisi ini.

    Kakek saya yang merupakan murid langsung dari Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy`ari termasuk yang tidak menerima barzanji. Dia membolehkan membaca barzanji sebagai karya syair, tetapi tidak mengizinkan untuk menjadikannya sebagai acara, sehingga tampak sebagai ritual. Sebagian besar langgar di kampung saya termasuk yang tidak menerima tradisi barzanji maupun pembacaan manaqib Syaikh `Abdul Qadir al-Jailani. Apa lagi kalau disertai ingkung (ayam panggang utuh dapat perlakuan tertentu), keras sekali larangan kakek saya. Langgar di kampung saya, ketika itu, umumnya mengikuti pendapat yang melarang ritual barzanji.

    Tetapi, tulisan ini tidak saya maksudkan mendiskusikan boleh tidaknya ritual barzanji. Tulisan ini saya hadirkan untuk belajar mengambil pelajaran dari pengalaman masa kecil. Pertemuan malam itu dengan Fathurrahmi membuat saya tersentak dan menyadari betapa sedikit yang sudah saya berikan kepada anak-anak. Dahulu, anak-anak sudah memahami fiqih dasar, sebelum mereka berusia 10 tahun. Sehingga ketika mereka tidak mengerjakan shalat orang tua memiliki alasan untuk memukul. Meski tidak menyakitkan, tetapi bukankan untuk memukul, orang tua harus mengingat qubhunal - `iqaab bilaa bayaan? adalah buruk menghukum tanpa memberikan penjelasan.

    Mengenangkan masa kecil, ada banyak hal yang mengusik jiwa. Ketika tardisi keilmuan melekat kuat dimasyarakat, para ibu tidak perlu kebingungan untuk menjelaskan mengapa tidak shalat. Sebab anak-anak sudah belajar dilanggar-langgar tentang haid, kaifiyah mandi junub, berwudhu, membedakan bersih tak berarti selalu suci, serta bebrbagai perkara penting lainnya. Hari ini, tardisi keilmuan itu telah berganti dengan tradisi nonton TV. Uang yang dulu ditabung sebagai bekal menuntut ilmu , sekarang beralih fungsi. Orang sibuk menabung untuk membeli mimpi – mimpi yang tak terbeli ; mimpi – mimpi yang mereka jejalkan setiap hari kepada diri mereka maupun anak –anak.

    Saya pernah merasa sangat terpukul ketika suatu hari ada istri seorang ustadz tergesa-gesa pulang begitu pengajian diakhiri. Bukan mengingat ada tetangga yang kelaparan, tetapi karena tayangan telenovela yang disukai sudah dimulai. Saya ingat sekali yang diburu oleh ibu kita ini: Casandra. Saya tidak tahu, sekarang masih ada atau tidak tayangan tersebut. Saya berharap sudah tidak ada lagi. Tetapi kalaupun sudah tidak ada, apakah acara-acara di televisi sekarang sudah lebih baik?

    Mengenangkan masa kecil, banyak pelajaran yang menggugah saya untuk merenungkan sejenak. Inilah masa ketika orang bersungguh-sungguh untuk mencari ilmu, sekurangnya yang menjadi bekal dasar kehidupan mereka. Ulama adalah orang yang sering menangis; menangisi dirinya sendiri karena tak mampu mengingatkan orang lain, menangisi kekurangan dalam berbuat baik dan menangisi manusia yang belum menyambut hidayah. Mereka dipanggil kyai karena masyarakat memberikan panggilan itu. Bukan karena mereka memberi julukan untuk mereka sendiri seraya membuat kartu nama indah yang bertuliskan Kyai Haji. Mereka segera menarik tangannya begitu ada yang bergerak menciumnya. Bukan memerah mukanya karena santri tak menggamit tangannya untuk dicium.

    Pada masa itu, saya mendapati NU dan Muhammadiyah belajar dari sumber yang sama. Di kampung saya, kebetulan NU dan Muhammadiyah perintisnya adalah keluarga. Hari ini, ketika tradisi keilmuan itu berganti dengan tradisi nonton televisi, Muhammadiyah kehilangan ulama. Sementara Ulama NU banyak yang kehilangan integritas. Hari ini, saya mendapati orang-orang yang tidak mempunyai kelayakan sebagai ulama, telah menisbatkan diri sebagai ulama. Pada saat yang sama, anak-anak kita semakin jauh dari agama. Masa-masa emas mereka belajar agama terlewatkan begitu saja secara teratur.

    "Moh Fauzil Adhim, Mizania 2006"

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Silahkan beri komentar pada artikel ini?

     
    Copyright (c) 2010 SD Integral Luqman Al Hakim Bojonegoro
    Jl. Lisman 18 B Bojonegoro Telp (0353) 7705344,888025, Email :sdintegral@yahoo.com